Assalamu'alaykum....
Selamat pagi... ^-^
Senin pagi orang cenderung menikmati waktu mereka bermacet-macet ria menuju tempat kerja, khususnya di Jakarta ini. Nah, untuk menemani yang mungkin masih terjebak macet di jalan, pagi ini aku akan sedikit berbagi tentang sebuah materi yang beberapa hari lalu kuperoleh saat mengikuti kajian. Seperti judul di atas, bahasan ini menegaskan tentang posisi wanita sebagai pemimpin di rumah suaminya... yah, rumah dia juga sih bersama anak-anak tentunya...hehehehe
Dalam Islam, wanita sangat dimuliakan. Hal ini terlihat bahwa salah satu nama surah dalam Al Qur'an adalah An Nisa' yang artinya adalah wanita. Jika pada zaman jahiliyah dulu peran wanita seakan tidak dianggap, dikerdilkan bahkan ada yang menganggap sebagai sebuah aib yang harus disembunyikan, berbeda halnya setelah syariat Islam ditegakkan, peran wanita semakin dimuliakan. Wanita dalam keluarga adalah sebagai tiangnya, yang kemudian perannya berkembang dari istri kemudian memegang peran ganda sebagai istri untuk suaminya sekaligus ibu dari anak-anaknya. Hal tersebut pun masih memungkinkan peran ganda lain yang harus diperankan oleh sosok wanita ini dalam keluarga, misalnya sebagai teman diskusi suami, penasehat suami, teman bercerita anak-anak, sahabat bermain bagi anak-anak, dan masih banyak lagi. Subhanallah.... Betapa mulia dan hebatnya bukan peran seorang wanita dalam keluarga. ^-^
Wanita sendiri dalam menyikapi sesuatu hal bisa bersikap reaktif namun akan lebih utama jika dia bisa bersikap proaktif. Jika wanita reaktif itu menunggu rangsangan dari luar berupa kejadian, peristiwa atau permasalahan dulu baru menyikapinya, berbeda dengan wanita proaktif yang jauh lebih aware terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada sebelum hal tersebut terjadi. Sehingga wanita proaktif lebih mengembangkan antisipasi bukan reaksi semata. Terlebih lagi peran wanita sebagai ibu adalah sebagai madrasah pertama untuk anak-anaknya, sehingga memegang peranan penting dalam mendidik anak-anaknya. Untuk itu, jika terdapat permasalahan dalam diri anak, jangan buru-buru menghakimi anak tersebut, tapi akan lebih utama jika melakukan evaluasi dan koreksi terhadap si ibu. Apakah kiranya ibu telah mendidik anak tersebut dengan semestinya? Apakah ibu telah melakukan antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan permasalahan yang akan dihadapi anak dan bagaimana pemecahannya?
Mendidik anak tidak semata menyampaikan melalui ucapan namun akan lebih utama melalui sikap yang bisa menjadi teladan. Bukankah satu teladan lebih utama dibandingkan 1000 kata-kata? ^-^
Sebagai madrasah pertama, ibu tidak hanya mengajarkan tentang seluk-beluk kehidupan dunia, akademis dan lainnya. Namun, yang lebih utama adalah mempersiapkan anak tersebut dari segi rohaniyah dan akhlak terpuji agar kelak tetap kokoh berdiri di tengah banyaknya cobaan dan godaan dalam hidup ini. Agar anak tetap lurus melangkah ke depan tanpa tersesat dalam menentukan arah, karena tujuan akhirnya sama yakni ridho Illahi. Pendidikan rohaniyah terhadap anak ini seharusnya dimulai sejak proses sebelum anak ini hadir, artinya sejak kedua orang tuanya merencanakan untuk memiliki anak. Seharusnya kedua calon orang tua membekali diri dengan bekal rohani yang kuat. Demikian pula halnya ketika anak dalam kandungan, ibu harus membiasakan melakukan hal-hal yang baik dan mulai mendidik anak tersebut dalam ilmu agama, seperti membaca Al Qur'an, sholat, bersilaturahim, mentadzaburi Al Qur'an dan kebiasaan-kebiasaan baik lainya.
Setelah anak tersebut lahir, sebagai orang tua, terutama ibu, harus pintar-pintar memilih metode dalam mendidik anak. Tidak boleh otoriter apalagi kasar, tetapi tidak boleh juga terlalu memanjakan. Ibu harus memandu anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, mengajarkan bagaimana berdemokrasi dalam keluarga serta mendorong anak untuk berani mengungkapkan pendapat. Sebagai seorang ibu, akan lebih sangat membantu dalam mendidik anak ketika ia bisa memahami bahasa non verbal anak, sehingga terdapat ikatan kuat antara ibu dan anak-anak yang insyaAllah akan lebih mudah dalam mengarahkan anak-anak untuk bisa lebih baik dari waktu ke waktu.
Sebagai istri, tugas wanita tak kalah penting dan utama. Wilayah kebijakan dan kekuasaan istri adalah dalam domestik keluarga sedangkan suami adalah di luar keluarga, khususnya dalam mencari nafkah untuk keluarga. Dengan adanya pembagian tugas dan teritori ini insyaAllah bukan untuk saling beradu kekuasaan dan saling menonjolkan melainkan untuk saling melengkapi dan menyeimbangkan. Istri dilarang untuk mengumbar keburukan suami. Lalu, bagaimana jika memang suami itu buruk perangainya? Coba evaluasi dan koreksi berdua, dengan bahasa cinta dari ke hati tanpa melukai hati masing-masing tanpa perlu mengumbar ke luar. Bagaimana ketika istri dan suami berselisih paham? Berselisih pahamlah di dalam kamar saat berdua, jangan di hadapan anak-anak. Dan ketika kembali di depan anak-anak, maka bersatu katalah. ^-^
Tugas istri di depan suami bukan sekedar menyenangkan suami, menjaga perut suami selalu dalam keadaan kenyang, memenuhi kebutuhan suami, menyenangkan untuk dilihat dan dalam pendengaran tetapi juga menunjukkannya dengan keadaan anak-anak yang terawat dan terdidik serta berbuat baik dengan orang tua, saudara dan kerabat suami. Sekilas kata, tugas istri seakan begitu bejibun, menumpuk, berat dan sulit, akan tetapi jika niat kita karena ibadah kepada Allah Swt niscaya kita akan senantiasa diberikan kekuatan dan kemudahan untuk melaksanakannya. Itulah kenapa, beberapa suami menginginkan istrinya untuk menjadi ibu rumah tangga saja daripada sibuk mengejar karir. Toh, di akhirat nanti yang pertama dimintai pertanggungjawabannya (setelah sholat dll) bukan bagaimana karirnya di dunia, tetapi bagaimana dia dalam menjalankan amanah sebagai ibu terutama dalam merawat dan mengurus suami dan anak-anaknya serta mendidik anak-anaknya.
Sepertinya pembahasanannya sudah terlalu panjang lebar deh... Jadi ga enak nih...hehehe
Demikian dulu yang bisa dishare, semoga bermanfaat ya...
Wassalamu'alaykum.... ^-^
Assalamu'alaykum...
Selamat Datang.... ^_^
Selamat Datang.... ^_^
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Senin, 06 Mei 2013
Rabu, 27 April 2011
Renungan : Dalam Hujan

Hujan lagi. Ya, hari ini hujan lagi. Derasnya sama seperti kemarin. Kesalahan itu pun terulang kembali. Tidak ada payung bersama diri. Alhasil pulangnya harus berlari-lari diantara rinai hujan nan mewarnai hari.
Ah, aku seakan terlupa. Bukankah hidup itu memang harus menari bersama hujan? Menghadapi segala uji dan cobaan nan tak henti berdatangan? Dan hujan dalam arti sebenarnya ini bukankah adalah salah satu rizqi yang diberikanNya kepada kita para hamba dan makhlukNya? Bukankah harusnya syukur lebih dominan menghiasi lisan dan diri? Bukankah harusnya diri berhenti tuk mengeluh dan protes padaNya? Bukankah DIA tak meminta lebih selain penerimaan atas apa yang telah DIA beri? Sulitkan berucap syukur? Bukankah cintaNya terlalu besar, mulia dan tinggi untuk diri? Lalu masihkah kita bermalas dan berat hati mensyukuri dan belajar mencintai? Ingatkah dirimu hakikat diri? Kelak di hadapanNya kita ditanyai bahwa tak ada yang patut kita cintai melebihi DIA nan tak henti mencintai diri? Ah, celakanya nanti jika dunia lebih kita cintai. Jika dunia lebih memberat di hati, hingga akhirat berlalu pergi. Tak ada persiapan dan bekal menyambut hari dan hidup abadi.
Hujan, tolong ingatkanku satu hal saja. BERSYUKUR!!!
Ingatkan aku tuk bersyukur dan tak henti mensyukuri atas apa yang telah DIA beri. Bersabar atas segala uji, tersenyum menghadapi apa yang terjadi dan berakhir dengan kata syukur menghiasi diri. InsyaAllah...
Hujan, aku tak pernah menolakmu bahkan aku sangat menyukaimu. Tanpamu pastilah dunia ini tak seindah ini, kami tak akan mengenal apa itu indahnya pelangi. Kami tidak akan pernah menatap takjub pada keindahan warna-warni menghiasi wajah langit ini.
Ya Rabb, ajarkan diri tuk tak henti bersyukur atas apa yang telah Engkau beri. Bahkan ketika Engkau tahu akan kehinaan dan betapa ingkarnya kami, tapi Engkau masih saja tak henti mengasihi.
Ya Rabb, ajarkan diri tuk tak lagi berkeluh kesah atas apa yang Engkau beri, bukankah semuanya adalah wujud kasih sayangMu? Harusnya kami tahu dan sadari itu, tapi sekali lagi ampunkan kami karena sering menutup hati, atau memang terlalu banyak dosa dan maksiat yang mewarnai hingga nurani tertutupi hingga keluh kesah lebih sering menghiasi diantara syukur yang harusnya lebih sering kami ucapkan tuk hiasi lisan dan hati.
(di sudut ruangan I 203, hujan mengguyur Bintaro dan mendung masih kuat bergelayut di wajah langit, 27 April 2011)
Senin, 18 April 2011
Muhasabah : Akibat Bercanda

Astaghfirullah...
Ya Allah, ampuni aku... Hari ini sepertinya bercandaku telah berlebihan hingga banyak persepsi yang bermunculan. Sungguh ya Allah, aku tak takut penilaian hambaMu atas diriku, hanya aku takut candaku memancing fitnah untuk orang lain. Jika begitu, maka sungguh celakalah aku! Untuk itu aku ber-istighfar dan memohon ampun padaMu ya Rabb...
Lidah ini sungguh tak bertulang, dan justru karena itu kadang tak sadar jika apa yang terucap telah melebihi batas. Ampuni aku ya Allah, atas kesalahan dan kekhilafanku pagi ini. Sungguh, diam itu lebih berarti daripada berucap yang tak bermanfaat dan tak berarti. Maka ajari diri ini tuk lebih bisa menahan diri agar hanya berucap untuk sesuatu yang bermanfaat, Rabbi.
Sungguh, hanya bercanda niatan hati. Tapi semakin banyak yang merespon dan berkembang menjadi banyak persepsi. Semoga saja dengan ijinMu, semua cukup sampai di sini ya Illahi, jangan menyebar lagi dan semakin banyak yang tersakiti. Apalah arti diri jika fitnah itu menyebar dari lisan tak sengaja yang berucap tanpa dipikir lebih dulu. Celakalah diri ini jika canda itu memancing fitnah nan banyak menyakiti. Ampuni diri ini, Ya Gaffur... Ampuni atas diri yang masih sering tak terkendali. Ampuni diri yang kadang mudah sekali digelincirkan syaitan dalam tiap tindakan hingga yang awalnya bercanda menjadi bumerang bagi banyak pribadi, pun jatuh banyak hati nan tersakiti. Ampuni diri ini, ya Rabb...
Sungguh lisan tak bertulang, tapi ketajamannya melebihi tajamnya pedang. Luka yang dihasilkannya melebihi sakit tercabik dan tersayat pedang atau pun belati, karena luka itu membekas di hati, lalu abadi bersemayam di sana. Bagaimana jika di akhirat nanti ia menuntut diri? Siapkah kita? Apa yang mampu kita beri bila hatinya tak ridhoi candaan lisan ini? Sanggupkah memberi segala amal yang telah kita perjuangkan? Atau sanggupkah menerima tambahan dosa dan kesalahan darinya? Sungguh ya Rabbi, ingatkan diri tentang hari kemudian, akhir dari semua perjalanan di dunia ini. Bahwa segalanya akan dimintai pertanggungjawaban, segalanya akan ditimbang dengan seadilnya tanpa ada yang terlewatkan atau terlupakan. Sungguh Allah Maha Teliti dan Maha Adil atas segala keputusanNya.
Ya Illahi, jadikan hari ini sebagai pelajaran berharga bagi diri agar kesalahan yang sama tak terulangi. Agar diri tak lagi banyak menyakiti hati. Agar lisan tak asal mengucap janji ataupun berkata apa yang terjadi jika tak pasti. Ajari diri ini untuk menahan diri, agar lisan lebih terjaga dan lebih berarti, berbicara sedikit tapi penuh arti dan bermanfaat bagi sesama di sekitar diri. Ampuni kami ya Rabbi, ya Gaffur, ya Illahi...
Allahummaghfirli...
Senin, 28 Februari 2011
Lelaki (Resume kultwit Gurunda Salim A. Fillah)

Bismillah...
Berikut ini adalah resume dari kultwit Gurunda Salim A. Fillah tentang #Lelaki :
1. Sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik perilakunya pada isteri. Akulah yang terbaik pekerti pada isteriku." (HR At Tirmidzi) #Lelaki
2. "Tidaklah memuliakan wanita, kecuali lelaki mulia. Dan yang menghinakan wanita, pastilah lelaki hina." (HR At Tirmidzi) #Lelaki
3. Allah merahmati suami yang bangunkan isterinya tuk shalat, jika sulit dipercikkannyalah air ke wajah. -dan sebaliknya- (HR Ahmad) #Lelaki
4. Nabi bolehkan dusta dalam 3 perkara: perang, mendamaikan 2 orang berselisih, & kalimat suami MENYENANGKAN isterinya. (HR Ahmad) #Lelaki
5. "Jadilah seperti kanak-kanak jika di hadapan isteri-isteri kalian." ('Umar ibn Al Khaththab) #Lelaki
6. Nikahkan anakmu dengan pria taqwa. Jika cinta, dia akan memuliakannya. Pun jika tidak, dia takkan menyakitinya. (Hasan ibn 'Ali) #Lelaki
7. Panggilan sayang Nabi untuk isteri: Khumaira (yang pipinya merona), 'Aisy (yang penuh daya hidup), Muwaffaqah (yang dapat taufiq) #Lelaki
8. Nabi, Saudah, 'Aisyah, & Hafshah bercanda dengan saling lempar serta saling mengoleskan kue-kue manis ke wajah. (HR Abu Ya'la) #Lelaki
9. Cinta selalu membutuhkan kata. Ia gelombang, menggores langit hati hingga memelangi. Ungkapkan: puisi, surat, lagu. (@anismatta) #Lelaki
10. Tulis di kertas hati merah jambu sejuta alasan mencintai isteri, tempel di kamar mandi, ranjang, dapur, rak, meja rias dll. #BMC #Lelaki
11. "Sepuluh perkara termasuk fitrah: menggunting kumis, merawat janggut, bersiwak, kumur-kumur, memotong kuku, beristinja'...cont #Lelaki
12. "..membasuh lipat jemari & cuping telinga, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan, menghisap air ke hidung." (HR Muslim) #Lelaki
13. Sesungguhnya para isteri suka jika kalian berdandan untuk mereka, sebagaimana kalian suka mereka berrias untuk kalian. ('Umar) #Lelaki
14. 'Aisyah: "Nabi suka meletakkan kepala di pangkuanku lalu kukeramasi kepalanya dan kusisiri rambutnya." (HR 'Abdurrazaq) #Lelaki
15. Nabi harumkan tubuh mulai dari bagian 'aurat dengan serbuk pewangi, lalu isterinya meminyaki bagian tubuh lain. (HR Ibnu Majah) #Lelaki
16. Nabi mencium isterinya setelah berwudhu' lalu beliau shalat tanpa mengulang wudhu' (HR 'Abdurrazaq) -Juga saat puasa- (HR Ahmad) #Lelaki
17. Nabi punya selimut yang senantiasa dicelup dengan wars & za'faran wangi. Beliau gilirkan untuk isteri-isterinya. (HR Al Khathib) #Lelaki
18. 'Aisyah: "Nabi minum dari sudut gelas tempatku meletakkan bibir & menggigit bersama tuk daging, zaitun & anggur." (HR An Nasa'i) #Lelaki
19. 'Aisyah: "Aku mandi bersama Nabi sebejana.." (HR Muslim) Umm Salamah: "..Kami canda berebut air di bejana." (HR Ibn Abi Syaibah) #Lelaki
20. Nabi memencet hidung 'Aisyah jika dia marah, mencium keningnya, lalu menuntunnya berdoa dengan lembut. (HR Ibnu Sunni) #Lelaki
21. "Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai." (HR Abu Dawud) #Lelaki
22. Nabi diundang jamuan, maka bertanya, "Apakah 'Aisyah juga diundang?" Dijawab tidak, tak datang. Dijawab ya, datang. (HR Muslim) #Lelaki
23. 'Aisyah: "Nabi suka meletakkan kepala di pangkuanku walau aku haidh, lalu beliau membaca Al Quran." (HR 'Abdurrazaq) #Lelaki
24. Nabi suka saling bersandar punggung dengan 'Aisyah lalu memintanya melafalkan syair, kemudian dibahas bersama. (HR Al Baihaqi) #Lelaki
25. Nabi lomba lari dengan 'Aisyah. Setelah dulunya kalah, satu saat beliau ungguli 'Aisyah. Beliau godai sambil senyum. (HR Ahmad) #Lelaki
26. Saat orang Habsyi bertari tombak di Masjid, Nabi & 'Aisyah menonton dengan saling beradu bahu serta menempel pipi. (HR Ahmad) #Lelaki
27. Anas: "Kulihat Nabi menata mantel di pelana. Beliau duduk & Shafiyyah meletakkan lututnya di atas lutut beliau." (HR Al Bukhari) #Lelaki
28. "Pilihlah tetangga sebelum memilih rumah, pilihlah kawan sebelum memilih jalan, siapkan bekal sebelum berangkat" (HR Al Khathib) #Lelaki
29. Sa'd ibn 'Ubadah masyhur sbg pencemburu. Nabi: "Aku lebih pencemburu dari Sa'd & Allah lebih pencemburu dariku." (HR Al Bukhari) #Lelaki
30. "..Cemburu yang disuka Allah adalah keraguan yang menguatkan ikatan. Cemburu yang dibenci ialah yang menghakimi." (HR An Nasa'i) #Lelaki
31. 'Aisyah: "Pekerjaan pertama yang dilakukan Nabi saat masuk rumah adalah bersiwak demi bersegar nafas tuk keluarga." (HR Muslim) #Lelaki
32. "Yang sangat aku cinta dari dunia ini adalah isteri & wewangian. Dan dijadikan shalat sebagai penyejuk mataku." (HR Al Baihaqi) #Lelaki
33. "Lima fitrah #Lelaki: istihdaad (cukur rambut kemaluan), khitan, memangkas kumis, mencabut bulu ketiak, memotong kuku." (HR Al Jama'ah)
34. #Lelaki terindah di mata wanita bukanlah yang paling tampan, melainkan yang bisa membuat Sang Hawa merasa tercantik di dunia.
35. #Lelaki tergagah di hati wanita bukanlah yang paling kekar, melainkan yang mampu mendengarkan, memahami, & mengerti curahan hatinya.
36. #Lelaki teragung di jiwa wanita, bukan cuma yang rajin shalatnya, melainkan yang ketekunan ibadahnya membuahkan akhlaq mulia.
37. #Lelaki tershalih bagi wanita, bukan sekedar yang banyak ilmu agama & hafal Qurannya, melainkan yang kedua hal itu teterjemah di kepribadiannya.
38. #Lelaki hebat berjuang melampaui wataknya. Seperti Abu Bakr; lembut & santun tapi tak jadi lembek. Dia teguh & tegar.
39. #Lelaki kuat berjibaku menggenapkan sifatnya. Seperti 'Umar yang keras; dia tak beringas. Dia paling penyayang pada ummat yang dipimpin.
40. #Lelaki mengagumkan berkorban jiwa raga tuk sempurnakan karakternya. Seperti 'Utsman yang pemalu, egonya diruntuhkan kedermawanan.
41. #Lelaki dahsyat memahami konsekuensi penampilannya. Seperti 'Ali yang periang & easy going; dia singa saat perang, rahib di gelap malam.
42. #Lelaki terkaya di angan wanita bukanlah yang terbanyak hartanya, melainkan dia yang penuh syukur pada Tuhannya, berjuang bagi keluarga.
43. #Lelaki sejati memilih BANGUN dan bukan jatuh, untuk cintanya. Agar cintanya menjadi istana megah menjulang, tinggi menggapai surga.
44. #Lelaki hebat tak suka berjanji. Tapi begitu memutuskan mencinta, dia menyusun rencana tuk memberi & bekerja mewujudnya walau tersunyi.
45. #Lelaki bahagia adalah Salman; cinta tak bersambut bukan kepedihan. Dia sokong Abud Darda' sahabatnya, menikahi gadis yang dicintanya.
46. #Lelaki jantan itu 'Ali; tak memintamu menunggu di batas waktu. Dia ambil kesempatan (itu keberanian), atau menyilakan (itu pengorbanan)
47. #Lelaki jernih itu Zaid ibn Haritsah; dia yang anak angkat Nabi menikahi Ummu Aiman, ibu asuh Baginda; sebab gairahnya adalah surga.
48. #Lelaki sederhana itu 'Abdurrahman ibn 'Auf; si kaya nan penampilannya tak beda dengan budaknya, khawatir surga tak terbayar oleh harta.
49. #Lelaki bernyali itu Thalhah; yang saat 70 luka mengoyak badannya berdoa, "Rabbi, ambil darahku sekehendakMu, sampai Kau ridha padaku!"
50. #Lelaki adil itu Abu 'Ubaidah; musuh nan ditaklukkannyapun berkata, "Kami lebih suka kalian kalahkan daripada menang bersama Byzantium!"
51. #Lelaki teliti itu Khalid. "Tak kulewati lembah, bukit, sungai, & apapun tempat melainkan kufikirkan strategi yang kupakai di sana!"
52. #Lelaki jujur itu Mubarak; 3 bulan menjaga kebun anggur tak ditahunya beda matang, busuk, & ranum; sebab tak sekalipun dia mencicipi.
53. Mubarak, #lelaki lugu itu diambil menantu oleh tuannya sebab kebaikan agama, lalu lahirlah putranya sang 'Alim-Zahid-Mujahid: 'Abdullah.
54. #Lelaki hati-hati itu Idris, ayah Asy Syafi'i, nan tak sengaja makan delima terhanyut lalu rela menikahi 'buta-tuli-bisu' demi halalnya.
Semoga bermanfaat... :)
Sabtu, 26 Februari 2011
Forgive and Forget

Bismillah...
Sepertinya lagi mulai kambuh keinginan menulisnya... :)
Tiba-tiba teringat pada pertanyaan seorang teman, bagaimana caranya melupakan kenangan yang menyedihkan? Bagaimana caranya memafkan seseorang yang telah menyakiti kita?
Well, mungkin jika kita tidak berada di posisinya, kita bisa saja dengan mudahnya mengatakan, "Sudahlah ikhlaskan saja!"
Ya, tentu saja kenyataannya tidak semudah itu. Karena ketika kejadiaan itu sedang kita alami akan sulit sekali mengimplementasikan kalimat "ikhlas" itu sendiri. Sungguh, beneran ga gampang!!
Dulu, ketika aku masih di bangku SMA, pernah sekali merasa sakiiiittt banget (Ini bukan hiperbolis lho, tapi sungguh sakit beneran)karena dikhianati oleh sahabat sendiri. Seorang sahabat yang telah kita percayai untuk memegang apa-apa yang mungkin tak pernah kita ceritakan kepada orang lain, tiba-tiba saja menjadikan kita tampak bodoh dengan tindakannya. Ya, tentu sakit sekali ketika kita dibohongi mentah-mentah, banyak hal terkait sekolah atau pun di luar sekolah, dan tidak sekali dua kali ia berbohong, cukup membuatku merasa sangat tidak tahan. Mencoba memahami alasannya, namun pada akhirnya gagal.
Sakit hati karena dibohongi dan dikhianti seseorang yang kita percayai tentu akan berbekas lebih dalam dan butuh waktu lebih lama untuk sembuh. Terbukti, saya menyimpan kemarahan dan kebencian itu selama 3 tahun. Bisa dibayangkan dunk betapa kejamnya aku!
Lalu aku merenunginya, mencoba berfikir lebih logis dan lebih dewasa. Apa sich yang kudapatkan dengan membencinya? Tidak ada! Yang ada justru aku akan menangis dan jatuh sakit tiap kali mengingatnya. Akhirnya setelah 3 tahun aku menyimpan kebencian dan kemarahan itu, kucoba untuk berdamai dengan diri sendiri. I try to forgive and forget.
Dan, perlahan-lahan aku mulai bisa benar-benar memaafkan. Bahkan kalau sekarang teman-temanku yang lain membahas masalah itu, kami hanya tertawa-tertawa mengenangnya. Yang pasti aku merasa lebih bahagia ketika telah memaafkannya. :)
Itulah, memang tidak mudah untuk langsung berdamai saat itu. Tapi jika kita belajar untuk memaafkan, pasti bisa.
Pun, ketika beberapa waktu lalu, aku kembali mengalami hal yang sama. Mengalami sebuah pengkhianatan. Ya, sempat merasa bahwa aku tidak akan bisa memaafkannya seumur hidupku. Lelah menahan sakit akibat dikhianati oleh orang yang telah benar-benar kita percayai.
Tak bisa dipungkiri, hal itu pun sempat membuatku sakit beberapa hari. Lalu, aku banyak membaca buku tentang muhasabah, menghabiskan waktu lebih untuk membaca Al Qur'an, mendengarkan pengajian-pengajian dan menyibakkan diri dengan berbagai event-event kepenulisan. Dan, berhasil membuatku merasa lebih nyaman.
Kali ini tidak perlu menunggu 3 tahun lagi untuk memaafkannya. Bahkan ga sampai 2 atau 3 bulan, aku belajar memaafkannya. Meski sempat juga merasa ragu dan bimbang. Tapi dengan modal dasar BISMILLAH, alhamdulillah semua terasa mudah.
Mau tahu alasan dan prinsip yang mendasariku??
Well, mari disimak!
Pertama, No body is perfect. Tidak ada seseorang yang sempurna. Yup, tentu saja karena kesempurnaan hanya milikNya. Jadi wajar saja jika ada seseorang yang melakukan kekhilafan dan kesalahan. Tapi semoga setelahnya, dia menyadari dan tak akan lagi mengulangnya, dengan alasan apapun.
Kedua, Pengadilan Allah SWT adalah yang paling adil. Ya, jangan pernah khwatir teman, semua akan dipertanggungjawabkan kok... :)
Bukankah tiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kita? Tentu tidak lupa dunk dengan hadist yang ini:
''Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.'' (H.R. Muslim).
Kelak, di akhirat kita akan dihadapkan dengan orang-orang yang terlibat dengan kita, apakah mereka yang pernah kita sakiti ataupun mereka yang pernah menyakiti kita. Dan di hadapanNya, sebagai yang tersakiti, akan ditanya keridhoannya.
"Apakah kamu ridho atas apa yang telah dia lakukan padamu?"
Sebagai yang tersakiti, apabila tidak ridho, maka pahala orang yang telah menyakiti akan diberikan kepada mereka yang tersakiti. Bagaimana jika pahala orang itu telah habis diberikan kepada orang-orang yang telah disakiti lebih dulu, sebelum kita? Rugi dunk kita?
Tenang, ingat ya, Pengadilan Allah SWT itu adalah pengadilan paling adil. Tidak akan ada yang bisa menyuap di sana, tidak seperti di dunia, dimana uang bisa berbicara.
Jadi, kalau kita ga kebagian pahala dari orang yang menyakiti kita, maka dosa kita yang akan diberikan padanya, tentu saja perhitungannya bagaimana hanya Allah SWT yang tahu.
Intinya, jangan pernah takut apalagi sedih ketika kita melihat bahwa orang-orang yang pernah menyakiti kita kenapa hidupnya baik-baik saja? Bahagia-bahagia saja? Eits, jangan lupa Allah SWT itu berkuasa, bisa mempercepat adzab ataupun menundanya. Kalau orang jahat telah mendapatkan hukuman di dunia artinya Allah sedang mempercepat adzabNya, kalau tidak, artinya Allah menunda adzabnya.
Pernah dengar cerita ini ga?
Dahulu kala hiduplah 2 raja di dua negara berbeda, yang satu merupakan raja yang adil dan bijaksana, yang satunya lagi adalah raja yang kejam dan dzalim. kedua raja itu sakit pada waktu bersamaan dan membutuhkan obat yang sama pula. Tapi Allah justru memberikan obat itu kepada raja yang dzalim. Lalu ada malaikat yang bertanya, "Ya Tuhanku, kenapa justru raja yang dzalim itu yang diberi kesembuhan? Kenapa bukan raja yang bijaksana itu?"
Maka Allah menjawab, "Sudah cukup perjuangan raja yang bijaksana itu biarlah digantikan yang lainnya. Dan lihatlah, betapa di hati rakyatnya, ia dikenal sebagai seseorang yang baik begitu pula Aku mengenalnya begitu. Sedangkan raja dzalim itu, aku memberinya kesempatan untuk berubah, jika tidak, sesungguhnya Aku sedang menunda adzabKu terhadapnya."
Nah, kan... jadi ga perlu khawatir, teman. Allah lebih tahu daripada kita. Dan DIA adalah Maha Adil. SO, tenang aja... :)
Eh, nambahin sedikit ya... :)
Kemarin denger tentang ini di sebuah kajian:
"Jika kita ditimpa musibah, jangan ke-GR-an duluan kalau itu ujian Allah SWT. Bisa jadi itu adalah adzab yang disegerakan. Perlu diketahui, bahwa ujian itu diberikan kepada mereka yang imannya sudah bagus, seperti generasi para nabi, sahabat dan kekalifahan, serta orang-orang yang memang pilihanNya. Nah, mari kita lihat diri kita? Sudahkah kita pantas menerima ujian atau masih saja menerima adzab yang disegerakan? Namun, jangan langsung bersedih karenanya. Justru ketika Allah SWT menyegerakan adzabNya pada kita, artinya Allah itu sayang sekali pada kita, tidak ingin kita berlama-lama dalam kemaksiatan dan penuh dosa maka dipercepatlah adzabNya untuk mensucikan kita, itupun kalau kita mau bersabar dan ga mengeluh terus ya."
Wah, benar juga ya, sejauh apa sich iman kita? Dan benarkah itu ujian bagia kita atau adzabNya?
Semoga kita bisa merenungi dan bermuhasabah dengannya. Sehingga menjadikan kita lebih baik ke depannya. amin...
Ketiga, Memendam marah dan benci akan membawa penyakit. Percaya kan, kalau penyakit itu kebanyakan karena pikiran dan perasaan? Dan itulah yang kadang secara langsung mempengaruhi kesehatan kita. Kalau aku sendiri sich percaya, karena kemarin-kemarin pun sempat mengalaminya. Meski kadang secara lisan mengatakan bahwa "Aku telah memaafkannya."
Tapi kadang kala secara bawah sadar masih saja menyimpan luka dan marah itu di sana. Alhasil, tak jarang ketika saya bangun pagi dalam keadaan demam tinggi.
Lalu solusinya apa? Mendekat padaNya lebih dekat dan belajar untuk benar-benar ikhlas. Alhasil, sekarang sudah lebih baik.
Yup, I try to forgive and forget.
Dan itu membuatku merasa lebih baik. Ga perlu ada kebencian diantara kita kan?? :)
Nah, pasti pernah denger lyric lagu yang ini?
"Khianati, sebisa hatimu mengkhianati"
Nah, itu juga perlu kita tanamkan dalam hati. Biar saja orang mau menjahati kita, mengkhianati kita, menyakiti kita ataupun melakukan hal-hal buruk pada kita. Toh, di akhirat kelak ada pengadilan Allah Yang Maha Adil. :)
So, yuk kita saling mengingatkan dan mendukung untuk belajar "Forgive and Forget". :)
Hidup cuma sekali, sayang. So, jangan sia-siakan untuk hal-hal yang ga penting. Mending kita pakai untuk semakin mendekat padaNya, kekasih sejati kita. Pemilik atas segala yang ada pada kita dan alam semesta, serta yang tidak kita ketahui juga. :)
La Tahzan... :)
Hmmm... satu lagi...
"Jangan marah maka bagimu surga."
Mau kan berlomba-lomba membangun istana di jannahNya? Serta bagi kita yang muslimah, yuk berlomba-lomba menyaingi para "huraiyatul jannah" yaitu para "bidadari surga". :)
Sekian dulu ya... :)
Semoga bermanfaat... :)
Renungan dan Muhasabah

Bismillah...
Selamat pagi Allah SWT, pemilik segalaku...
Selamat pagi bapak dan adikku nu jauh di sana (tapi selalu di hati...^_^)
Selamat pagi ibu sayang yang telah beristirahat di sisiNya... Kami semua merindukanmu...
Dan selamat pagi wahai engkau, lelaki pemilik hatiku... Apa kabarmu hari ini? Semoga hatimu tetap tertuju kepada Tuhanmu dan dipenuhi kerinduan untuk selalu berlaku sesuai kehendak Tuhanmu, juga tak pernah henti merindu Tuhanmu hingga lisanmu tak henti berdzikir memujaNya... :)
Hmmm, pagi ini entah kenapa tiba-tiba membaca kembali beberapa twit terakhir. Seperti efek dari membaca note FB tentang "Facebook, Kita dan Aurat Kita". Sedikit mengulang kembali pada apa yang selama ini tertulis baik di FB ataupun di twitter. Jangan-jangan iya, selama ini tidak memberi tweet yang bermanfaat, malah meracau ga jelas. Teringat waktu-waktu sedang dilanda kegalauan dulu, apakah aku sampai terlalu mengumbar kesedihanku? YA Allah, ampuni daku.
Sekilas tadi teringat pada tweet mb @lalapurwono, seorang penulis kenalanku yang telah menerbitkan beberapa buku melalui @nulisbuku.
Aku sempat me-RT yang ini:
"A trust needs no language. Karena kepercayaan itu bukan untuk diminta atau dipenuhi dengan kata-kata, tetapi untuk ditunjukkan dengan perbuatan."
Ya, kepercayaan itu tak sekedar janji manis di mulut saja, tapi lebih pada implementasinya.
Tentu, kita masih ingat ciri-ciri mukmin kan? Apa hayo??hehe...
Nah, singkatnya ciri-ciri mukmin itu seperti di bawah ini :
*Takut kepada Allah serta memohon perlindungan dari 'azabNya dan menunaikan Tahajjud dan mendekatkan diri kepada Allah pada waktu malam
*Sederhana dalam berinfaq
*mengesakan Allah dan menjauhi yang diharamkanNya
*Tidak melakukan sumpah palsu dan berkata berlebih-lebihan
*Mendengar Firman Allah SWT dan melaksanakannya.
*Bergantung kepada Allah SWT dalam meminta keperluan dan harta dunia dengan berdoa.
*Memenuhi dan tidak memungkiri perjanjian
*Semua ada dalam firman Allah SWT dalam surah al-Furqan, ayat 63-75:
"Dan hamba-hamba (Allah) Ar-Rahman (yang diredhaiNya), ialah mereka yang berjalan di bumi dengan sopan santun dan apabila orang-orang yang berkelakuan kurang adab, hadapkan kata-kata kepada mereka, mereka menjawab dengan perkataan yang selamat dari perkara yang tidak diingini;Dan mereka (yang diredai Allah itu ialah) yang tekun mengerjakan ibadat kepada Tuhan mereka pada malam hari dengan sujud dan berdiri, Dan juga mereka yang berdoa dengan berkata: Wahai Tuhan kami, sisihkanlah azab Neraka Jahanam dari kami, sesungguhnya azab seksanya itu adalah mengerikan.
"Sesungguhnya Neraka Jahanam itu tempat penetapan dan tempat tinggal yang amat buruk;Dan juga mereka (yang diredai Allah itu ialah) yang apabila membelanjakan hartanya, tiadalah melampaui batas dan tiada bakhil kedekut dan (sebaliknya) perbelanjaan mereka adalah betul sederhana di antara kedua-dua cara (boros dan bakhil) itu.Dan juga mereka yang tidak menyembah sesuatu yang lain bersama-sama Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya, kecuali dengan jalan yang hak (yang dibenarkan oleh syarak) dan tidak pula berzina dan sesiapa melakukan yang demikian, akan mendapat balasan dosanya;Akan digandakan baginya azab seksa pada hari kiamat dan dia pula akan kekal di dalam azab itu dengan menerima kehinaan;Kecuali orang yang bertaubat dan beriman serta mengerjakan amal yang baik, maka orang-orang itu, Allah akan menggantikan (pada tempat) kejahatan mereka dengan kebaikan dan adalah Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani."
"Dan sesiapa yang bertaubat serta beramal soleh, maka sesungguhnya (dengan itu) dia bertaubat kepada Tuhannya dengan sebenar-benar taubat;Dan mereka (yang diredai Allah itu ialah orang-orang) yang tidak menghadiri tempat-tempat melakukan perkara-perkara yang dilarang dan apabila mereka bertembung dengan sesuatu yang sia-sia, mereka melaluinya dengan cara membersihkan diri daripadanya.Dan juga mereka (yang diredai Allah itu ialah orang-orang) yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat keterangan Tuhan mereka, tidaklah mereka tunduk mendengarnya secara orang-orang yang pekak dan buta.Dan juga mereka (yang diredai Allah itu ialah orang-orang) yang berdoa dengan berkata: Wahai Tuhan kami, berilah kami beroleh dari isteri-isteri dan zuriat keturunan kami: Perkara-perkara yang menyukakan hati melihatnya dan jadikanlah kami imam ikutan bagi orang-orang yang (mahu) bertakwa.Mereka itu semuanya akan dibalas dengan mendapat tempat yang tinggi di Syurga disebabkan kesabaran mereka dan mereka pula akan menerima penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,"
Sebenarnya di AL Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang menerangkan tentang mukmin sejati dan ciri-cirinya, tapi tidak memungkinkan untuk di share semua di sini. Silakan teman-teman lengkapi sendiri ya... :)
Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang mukmin. Tentunya tidak dengan berdiam diri dunk, melainkan upaya kita untuk semakin mendekatkan diri padaNya dan meningkatkan kualitas diri di hadapanNya. :)
Nah, masih terkait dengan kepercayaan tadi, ada juga yang tidak bisa menjaga amanah. Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai ciri-ciri orang munafik. Pada orang munafik minimal ada satu ciri, sedangkan munafik tulen memiliki ketiga-tiganya. Ketiga ciri tersebut adalah
1. Bila berbicara selalu bohong.
Orang seperti ini tidak bisa dipercayai dalam setiap perkataan yang diucapkannya. Bisa jadi apa yang dibicarakan tidak sesuai dengan hatinya.
2. Bila berjanji, tidak ditepati
Orang munafik sulit untuk dipercayai perkataan dan perbuatannya
3. Bila diberi kepercayaan selalu berkhianat.
Orang munafik sulit diberikan kepercayaan. Setiap kali kepercayaan yang diberikan tidak dapat dia jaga dengan baik.
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dari sifat-sifat munafik dan kejahatan orang-orang munafik. Amin.
Nah, tentu saja sifat dan sikap kita terhadap amanah/kepercayaan ini tak terlepas dari akhlaq sebagaimana telah ter-resume dari kultwitnya Salim A. Fillah sebelumnya.
Nah, teman-teman, yuk saling mengingatkan dalam kebaikan, saling mendo'akan dalam kebaikan dan kebenaran, serta berlomba-lomba dalam kebaikan dan kebenaran itu sendiri. Sebagai upaya kita untuk meningkatkan kualitas diri di hadapanNya. Sehingga kelak, ketika Allah SWT meridhoi dan mengijinkan kita untuk menatap wajahNya, kita tidak akan terlalu malu da merasa terlalu hina karena segala kelalaian kita selama di dunia.
Semoga bermanfaat... :)
Selasa, 30 Maret 2010
Bersama Mb Asma Nadia ber- "Muhasabah Cinta"

Hmmm...membaca buku "Muhasabah Cinta Seorang Istri" karya mb Asma Nadia ini sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa. Ya, saya memang belum menikah, tapi saya rasa ga ada salahnya dunk ikut membeli dan membacanya. Apalagi memesan lewat Penerbit Asma Nadia. So, bukunya sampai ke saya sudah ada bonus tanda tangan penulis dan stikernya juga. Alhamdulillah.... :)
Subhanallah, saya sampai bingung mau mengomentari buku ini..hmm...apa ya??? hehehe..
Kisah-kisah di dalamnya sungguh menggelitik, mengajak kita kaum hawa untuk menoleh kepada suami tercinta dan melihat betapa banyaknya hal-hal kecil tapi istimewa yang telah dilakukan untuk kita sebagai isteri. Dan ga harus sesuai dengan maunya kita juga kan?Yakinlah suami kita punya cara tersendiri yang pada dasarnya tujuannya sama kok, kebahagiaan rumah tangga.hehehe... Ya meski saya belum menjadi isteri tapi ga apa-apa dunk memposisikan diri sebagai isteri agar bisa lebih merasakan pesan yang ingin disampaikan penulis. hehehe.... *Ga apa-apa kan, sekaligus do'a agar saya juga disegerakan menjadi seorang isteri dan ibu, insyaAllah... amin... :)
Saya sering tersenyum-senyum sendiri membacanya. Sebagai contoh kisah seorang isteri yang romantis tapi suami realistis. S isteri pengen sesekali diromantisin tapi suami ga romantis, tapi kalo diperhatikan lagi, oh..ternyata suami punya cara sendiri untuk mengungkapkan sayang dan cintanya. Dan masih banyak kisah-kisah lainnya...pokoknya seruuuuu abizzzz....hehehe... :)
Ga apa-apa dunk, kalo kita berbeda karena justru perbedaan itu yang kadang malah membuat kita merasa dekat. Iya ga??? betul kan?? kan susah nyari orang yang sama seperti kita apalagi nyarinya 100% sama, bayangan aja kali ya?? Eh, bayanganpun masih beda juga dink, kan kalo bercermin, kita dan bayangan kita masih beda sisi kiri dan kanannya...hehehe....
Hmmm....dan melalui buku ini saya juga jadi bertafakur, ternyata memang benar seperti yang pernah disampaikan Rasulullah SAW bahwa banyak penghuni neraka itu adalah wanita, dan sebagian sebabnya adalah karena tidak mensyukuri apa yang telah diberikan oleh suami mereka. Kadang kalo sudah ngambek pasti yang diinget cuma kejelekan suami, sedangkan kebaikannya seperti menguap. Astaghfirullah... :(
Makasih buat mb Asma Nadia, dkk yang telah menghadirkan buku ini yang sesuai judulnya memang sebagai langkah seorang isteri dan calon isteri untuk bermuhasabah terhadap cinta mereka.
Teruntuk para isteri, tetap semangat dalam mewarnai rumah tangga dengan keindahan dan jangan lupa untuk terus meng-upgrade cintanya untuk suami tercinta.
Dan untuk yang masih calon isteri (seperti saya...hehehe...) semoga kelak bisa senantiasa meng-upgrade cinta kita untuk suami. Agar saat rumah tangga sudah mulai hambar, kita bisa memberikan rasa manis lagi padanya. Dan saat cinta itu hanya berwarna hitam kelam, maka kita bisa menghiasi dengan warna lainnya, apakah biru, merah, jingga, hijau atau nila hingga tampak indah kembali seindah pelangi. Amin...
Semoga kelak kita dihimpun bersama di Jannah-Nya....amin..
So, pesan sponsor nich...jangan lupa untuk membeli buku ini dan bersiap mengekspresikannya. hehehe...
*Jangan dibaca sambil jalan ya, takut nabrak atau dikira orang gila gara-gara cengar-cengir sendirian...hehehehe...
Langganan:
Postingan (Atom)
