Mataku masih enggan terpejam
Ada rasa yang bergelayut manja di dada
Entah apa namanya
Rindukah?
Atau hanya sekedar ingin menyapa?
Aku menatap langit-langit kamar
Pikiranku melayang
Seakan aku kembali pada masa itu
Masa dimana aku masih bersamamu
Ibu
Mungkin tak seharusnya aku merindu
Tapi hatiku seakan memaksa untuk bertemu
Ibu
Datanglah temui aku
Meski hanya lewat mimpi
Meski hanya sekedar bayangmu
Walau aku tahu semua itu semu
Tapi bagaimana aku mengurai segala rindu
Yang selalu bergelayut di hati ini?
Ibu
Bukan aku tak merelakanmu
Hanya terkadang hidup ini sepi
Pun hampa tanpamu
Dulu
Aku melakukan semua yang terbaik
Aku lakukan sebisaku
Untuk siapa?
Untukmu dan bapak
Hanya untuk kalian berdua
Hanya itu alasanku bertahan
Berharap hidup lebih lama
Untuk buat kalian bangga dan bahagia
Kepergiaanmu
Membuat semua berubah
Semangat hidupku mungkin tak sama
Tapi aku tahu
Ada bapak dan adik untukku
Ada mereka untuk kuperjuangkan
Ada mereka yang buatku untuk bertahan
Ada mereka yang kau titipkan
Untuk keberikan yang terbaik
Semampuku
Sebisaku
Ibu
Aku rindu
(senandung rindu dalam malam yang semakin merayap menuju kelam tapi mata belum bersedia terpejam... maka kata ini yang kemudian terangkai dan tertuang, mewakili segala rasa di dada... Bintaro, 5 April 2011)
Assalamu'alaykum...
Selamat Datang.... ^_^
Selamat Datang.... ^_^
Selasa, 05 April 2011
Wedding Dress (Review)

Wedding Dress, sebuah film korea yang dibintangi oleh Song Yun Ah dan Kim Hyang Gi bertajuk tentang keluarga. Film ini mengisahkan hubungan antara anak dan ibu yang kelihatannya kurang baik, tapi cinta diantara keduanya begitu kuat.
Go En, seorang ibu satu anak. Dia menjanda karena suaminya telah lama meninggal. Untuk bertahan hidup dan membiayai pendidikan anak perempuannya, So Ra, dia bekerja disebuah butik Wedding Dress. Go En menjadi desainer baju pengantin.
Semenjak suaminya meninggal, Go En tidak pernah memasak. Selalu membeli makanan siap saji dan makanan instan di supermarket, terkadang bahkan ikut makan di rumah salah satu keluarganya. Hal inilah yang sering membuat So Ra kesal pada ibunya. So Ra menjadi anak yang egois, tidak mau berbagi makanan dengan teman-temannya, bahkan jika ada temannya yang telah menyentuh makanannya saja, So Ra akan langsung berhenti makan dan membuang sisa makanannya. Go En selalu marah dengan sikap So Ra yang demikian. Tapi selalu terdiam jika So Ra mengatakan alasannya karena jijik terhadap makanan yang telah disentuh oleh orang lain.
Go En mulai sering merasa lelah, sering tiba-tiba mual dan muntah dan juga pingsan. Suatu ketika, Go En pingsan ketika sedang ada acara do'a bersama untuk peringatan meninggalnya orang tuanya. Ketika itu, kakak laki-laki Go En membawanya ke rumah sakit. Barulah diketahui bahwa Go En mengidap kanker lambung yang sudah kronis dan membahayakan nyawanya.
Kenyataan tersebut perlahan diketahui oleh So Ra. Sedih ketika mengetahui bahwa umur ibunya tidak akan lama lagi. Maka ia pun berubah, menunjukkan sikap manis dan patuh pada ibunya.
"Ibu, hari ini apapun yang ibu minta So Ra janji akan memenuhinya."
"Sungguh? Hmm... Ibu ingin So Ra mempunyai banyak teman dan berbaikan dengan Jin A. Satu lagi, ibu ingin melihat So Ra menari balet."
So Ra, demi memenuhi permintaan ibunya rela meminta maaf dan memohon pada Jin A dan teman-temannya untuk ikut menjenguk ibunya di rumah sakit. So Ra juga mati-matian belajar balet agar bisa tampil di depan ibunya. Semua usaha So Ra berhasil.
Malam itu, So Ra menghabiskan waktunya bersama Go En. Bercerita hingga malam sampai So Ra tertidur. Keesokan harinya, So Ra menganggap ibunya masih tidur. Kenyataannya, itulah saat terakhir So Ra bersama ibunya. Ibunya telah pergi meninggalkannya menyusul ayah tercintanya di surga.
Kini, So Ra yang masih berumur 7 tahun itu harus hidup sendiri, sebatang kara. Kakak laki-laki Go En dan istrinya lah yang pada akhirnya bersedia merawat dan membesarkan So Ra.

"Ibu, aku sangat menyayangimu. Aku tahu ibu tidak pandai memasak, selalu sibuk bekerja dan suka marah-marah. Tapi sungguh ibu, aku sangat mencintaimu. Orang yang paling aku cintai di dunia ini adalah ibu, tidak ada yang lain lagi. Beberapa waktu lalu aku baru tahu jika ibu sakit. Ibu meminum obat yang sangat banyak. Ingin aku mengambil semua sakit ibu. Seandainya bisa, aku ingin ibu tidur dan beristirahat saja. Aku akan memasak, mencuci, membersihkan rumah dan bekerja. Tapi aku ingin ibu selalu menemaniku selamanya. Bisakah ibu? Aku hanya ingin ibu di dunia ini. Bagiku cukup ibu dan tidak perlu ada orang lain. Aku mencintaimu ibu." So Ra
***
Film ini menitik beratkan pada keharuan. Berusaha menunjukkan betapa kuatnya cinta kasih antara ibu dan anak. Meskipun terkadang secara kasat mata hubungan anatara ibu dan anak tidak harmonis. Tapi di hati mereka, saling mengutamakan satu sama lain.
Seorang ibu yang terlihat sibuk bekerja, seakan tidak peduli pada anaknya, sesungguhnya dalam hatinya sangat peduli pada anaknya. Hanya terkadang keadaan yang memaksanya jauh dan tidak bisa sesering mungkin bersama buah hatinya.
Seorang anak yang terlihat membantah setiap perkataan ibunya, terakdang hanya mencoba mendapatkan perhatian ibunya, Karena baginya perhatian ibu adalah segalanya.
Menonton film ini membuatku berurai air mata. Mengajakku untuk menengok ke relung hati paling dalam. Apakah aku sudah menjadi anak yang baik bagi orang tuaku, terutama ibu?
Aku sempat merasa iri dengan anak di dalam film tersebut.
Anak itu sempat memenuhi keinginan ibunya dan membuatnya bahagia.
Sedangkan aku? Bahkan belum sempat membuat ibunya merasa bahagia dan bangga karenaku. Mungkin sudah, tapi setidaknya hasil jerih payahku bekerja belum mampu untuk membuat ibuku bahagia dan bangga. Itu yang sempat tiba-tiba meremas hatiku dan membuatku merasa bersalah.
Maafkan aku ibu, jika ada keinginanmu yang belum sempat untuk kupenuhi. Jika ada keinginanmu yang belum mampu untuk kuwujudkan. Hingga kini Ibu sudah tak lagi bersamaku, bersama kami di dunia ini.
Senin, 04 April 2011
Asma Nadia Inspirasiku
Bismillah...
Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi saya. Pasalnya beberapa waktu lalu saya mencoba ikut berpartisipasi dalam sebuah lomba bertajuk "Audisi Penulisan Asma Nadia Inspirasiku" yang diadakan oleh Leutika Publisher. Dan hari ini adalah hari pengumuman. Alhamdulillah ada nama saya diantara 30 pemenang. Segala puji dan syukurku pada-Mu, Ya Rabb... :)
Beberapa waktu lalu ketika saya melihat update peserta yang notabene ada 212 peserta.
No. Nama
1. Achmad Nasta’in
2. Ade Rahayu
3. Afin Yuliani
4. Agtri Malsa
5. Ahmad Hilal Fauzi
6. Ailil Himah
7. Aisyah Al Humairoh
8. Amanda Ratih Pratiwi
9. Andika
10. Aning Lasiana
11. Anisa Widiyarti
12. Annisa Rahim
13. Ansi Rima Paramita
14. As ' Ad
15. Asep Endang Gunawan
16. Asni Januarti
17. Aulia Rahmawati
18. Ayu Wardani
19. Bagus Santoso
20. Bayu Insani
21. Cahyo Fajar K
22. Carlina Rosita
23. Chilfia Karunianty
24. Chomsiyah
25. Cici Wulandari
26. Daniel Hermawan
27. Dede Yunita Putri
28. Dedeng Juheri
29. Dedi Setiawan
30. Deni Mulyadi
31. Desmayenti
32. Dewi Intan Purnama Alam
33. Diah Kartika Rahayu
34. Dian Andari Yuan
35. Dian Nafiatul Awaliyah
36. Dian. I. Iskandar
37. Diar Estiwinengku
38. Dimas Ade Nugroho
39. Dina Fauziah
40. Dina Romadhianingrum
41. Dina Wahyuni
42. Doni Suseno
43. Dwi Aprilytanti Handayani
44. Dwi Isnaini K.
45. Een Kurniati
46. Efriany Susanty
47. Eka Purwani
48. Eka Putri Hapsari
49. Eka Safitri
50. Emi Maryami
51. Endang Sri Sulistiawati Ningsih
52. Endirah Ekaningrum
53. Eniya Linda Kinanti
54. Eric Shandy Admadinata
55. Erni Sariningsih
56. Etika Suryandari
57. Evi Andriani
58. Fera Dyah Normalitasari
59. Fiergi Oktaria
60. Fitri Amaliyah Batubara
61. Fitri Gendrowati
62. Futicha Turisqoh
63. Gardina
64. Gempar Agru Prakassa
65. Hana Widyanti
66. Hani Miftahuljannah
67. Hayatun Thayyibah
68. Helmi Agusrizal
69. Hendra Sugiantoro
70. Hendro Prawidianto
71. Henny Andriyani
72. Hesti Riyantini
73. Ibnu Atoirahman
74. Ida Fauziah, Sp
75. Ihsan Mutaqien
76. Iis Afriyanti
77. Iis Laelani
78. Illa Purnama Sari
79. Ina Apriastin Arok
80. Indah Prisilia
81. Indah Purnama Sari
82. Indah Rozalina
83. Ira Apni Purwasih
84. Irena Puspawardani
85. Irhayati Harun
86. Ivan Triyadi
87. Jamilatun Heni Marfu’ah
88. Jantriwanis
89. Jawahirur L.F
90. Jayusman Lacanda
91. Jazilah Imana
92. Joko Susanto
93. Kahar S. Cahyono
94. Khoirun Nisa'ul Abidah
95. Khomsyah Nurhayati
96. Laksmi Satiti
97. Lathifatun Mu’asyarah Harahap
98. Leila Rizki Niwanda
99. Lina Dwi Astuti
100. Linda Astuti
101. Luluk Khumaidah
102. M. Faizal Ramadhan
103. M.E. Chitra Eka Dewi
104. Maya Romayanti
105. Mayang Ayu Lestari
106. Miftahul Jannah
107. Mildaini
108. Mimin Hari Wahyuni
109. Mira Apriani
110. Misrawati
111. Moh. Afdal Rahman
112. Munawir Syam
113. Murti Yuliastuti
114. Muzakki Bashori
115. Nandini Listya Adiasari
116. Nasruddin Asn
117. Nini Maryana Rayanti Sari Dewi
118. Nining Sumarni
119. Nisfiyah Sya`baniyah Munir
120. Nofitri Suryani Zaiman
121. Novi Aprilia Kumala Dewi
122. Novie Suciati
123. Novitawati
124. Nur Khanifah
125. Nur Intan
126. Nur Karimah
127. Nur Laili Nahdliyah
128. Nurhalimah
129. Nurlaila
130. Nurlaili
131. Nurlaili Br.Sembiring
132. Nurul Fauziah
133. Nurul Ghoni
134. Oci Yonita Marhari
135. Oktaviana Muharromah
136. Okti Lilis Linawati
137. Oliva Virvizat Prasastin
138. Oman Abdurohman Sugandhi
139. Puji Astutik
140. Puput Sekar Kustanti
141. Purwanti
142. Puryanti
143. Puspita Hayuning Kartini
144. Rara Oktaria Nanda
145. Rasfiza
146. Ratih Andriani Khasanah
147. Ratih Indah Lestari
148. Ratna Choirunnisa
149. Ratna Chrisnawati
150. Ratna Dwi Kumala Sari
151. Rendy Jean Satria
152. Reni Astuti
153. Renny Amelia
154. Resirasari Diah Rizkyaputri
155. Retno Kusriyati
156. Ria Fariana
157. Riana Sriwijayanti
158. Riawani Elyta
159. Ridha Fajarwati Hidayah Sutardi
160. Rina Apriani
161. Rinatin Nyoto
162. Rininta Majestica Siregar
163. Rintan Ledi Diana
164. Rissa Aulian
165. Rizky Rachmawati
166. Robinson Elohansen, S.Pd.
167. Rochana Fitriastuti Muryaningsih
168. Rosintan Hasibuan
169. Rosita Kusumawardani
170. Rurin Kurniati
171. S. Hastutiningsih
172. Salma Azzahra
173. Sanusi
174. Sariyanti
175. Sekar Fitri Puji Lestari
176. Sekar Padmi Aditya Loka Samantha
177. Sheila Fitriasari
178. Siami Maysaroh
179. Silmi Nurul Karimah
180. Silvianis
181. Siti Maryam Purwoningrum
182. Sri Rahayu
183. Sri Sugiastuti
184. Sri Wahyuti
185. Sri Winarti
186. Subariyem
187. Suci Rachmawati
188. Sugiarti, S.si
189. Sukimah
190. Sundus Afifah
191. Sutono
192. Tia Marty
193. Tika Artiwi
194. Titin Rostini
195. Tri Juni Ardhi
196. Tumpal Sihombing
197. Tusiana Noor Alfisyahr
198. Ulfah Khaerani
199. Usup Supriyadi
200. Vanda Nur Arieyani
201. Vita Sophia Dini
202. Vivid Dekanawati
203. Widya Fitri
204. Wien Ina Kumala
205. Wyllmarz Pasangka
206. Yanelis Prasenja
207. Yanuar Fajaryani Rahardiana
208. Yossy Wulandari Kusuma Ningrum
209. Yuli Duryat
210. Yuli Misgiyati
211. Yun Widhiatmi
212. Yurmawita Adismal
Melihat banyaknya peserta, tentu saja saya merasa peluang untuk menang semakin tipis, semakin kecil. Tapi tetep optimis saja deh. Banyak-banyak berdo'a sama Allah SWT. Apapun hasilnya nanti insyaAllah yang terbaik. Jika menang itu adalah kehendak-Nya dan menjadi motivator bagi saya. Kalaupun kalah maka itupun kehendak-Nya dan motivator juga untuk terus berkarya lebih baik lagi.
Dan hari ini, Leutika Publisher dan Leutika Prio mengumumkan 30 pemenangnya. Ada namaku di sana. Alhamdulillah... :D
Selamat kepada para pemenang!
No. NAMA ~Judul
1. ADE RAHAYU ~Asma Nadia Adalah Inspirasiku Setelah R.A. Kartini
2. ANISA WIDIYARTI ~Sosok yang Menginspirasi Hidupku
3. DANIEL HERMAWAN ~Berkarya dari Kesederhanaan
4. DESMAYENTI ~Ku Ingin yang Sempurna
5. DIAN ANDARI YUAN ~Indahnya Sebuah Kesabaran
6. DIAR ESTIWINENGKU ~Hidayah yang Tertunda
7. DINA FAUZIAH ~Ketika Aku Ingin Melepas Jilbab
8. DWI APRILYTANTI HANDAYANI ~Menembus Cakrawala Bersama Asma Nadia
9. DWI ISNAINI K.~Satu Asma Nadia untuk Dua Duniaku
10. EKA PURWANI ~Istana Kedua untuk Bapak
11. IRENA PUSPAWARDANI ~Hampir Separoh Umurku Ditemani Asma Nadia
12. JOKO SUSANTO ~2 Hati 1 Cinta Sejuta Warna
13. LEILA RIZKI NIWANDA ~Jangan Jadi Muslimah Biasa-Biasa Saja!
14. LINA DWI ASTUTI ~Asma Nadia, Inspirasiku Terus Berkarya
15. MIFTAHUL JANNAH ~Inilah Aku!!!
16. MILDAINI ~Ketika Cinta Tak Lagi Indah, Saatnya Menelusuri Jejak yang Terlupa
17. MIRA APRIANI ~Di Mataku, Suamiku Sempurna
18. MURTI YULIASTUTI ~Catatan Hati Mom…Wow !
19. RATIH INDAH LESTARI ~Surga Untuk Kita
20. RATNA CHRISNAWATI ~Bukan Sekedar Cinta Biasa
21. RESIRASARI DIAH RIZKYAPUTRI ~Berjanjilah!
22. RIAWANI ELYTA ~Cinta Pembuka Segala
23. RINATIN NYOTO ~Allah, Bersama-Mu Tak Ada Jalan Buntu
24. RISSA AULIAN ~Menjadi Istri Paling Bahagia
25. ROSINTAN HASIBUAN ~Pertemuan Tak Sengaja
26. SANUSI ~Cinta Laki-laki Biasa yang Luar Biasa
27. SUKIMAH ~Catatan Hati Seorang Istri, Catatan Hati yang Menyadarkanku
28. VITA SOPHIA DINI ~Asma Nadia: Idola, Inspirator, Motivator
29. WIDYA FITRI ~Mba Asma Bikin Aku Tambah Nekad
30. YULI MISGIYATI ~Guru Anakku Sekolah di PAUD
Selamat juga bagi semua Pemenang Masa Depan!
Kesempatan berkarya di masa depan semakin besar.
Keep Spirit!
Terus Berkarya Leutikans!
Ayo sahabat... Terus berkarya... Setiap ada event, coba aja. Jangan takut dan minder. Seperti saya contohnya, modal nekat aja... :)
Selamat berkarya Sahabat... :)
Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi saya. Pasalnya beberapa waktu lalu saya mencoba ikut berpartisipasi dalam sebuah lomba bertajuk "Audisi Penulisan Asma Nadia Inspirasiku" yang diadakan oleh Leutika Publisher. Dan hari ini adalah hari pengumuman. Alhamdulillah ada nama saya diantara 30 pemenang. Segala puji dan syukurku pada-Mu, Ya Rabb... :)
Beberapa waktu lalu ketika saya melihat update peserta yang notabene ada 212 peserta.
No. Nama
1. Achmad Nasta’in
2. Ade Rahayu
3. Afin Yuliani
4. Agtri Malsa
5. Ahmad Hilal Fauzi
6. Ailil Himah
7. Aisyah Al Humairoh
8. Amanda Ratih Pratiwi
9. Andika
10. Aning Lasiana
11. Anisa Widiyarti
12. Annisa Rahim
13. Ansi Rima Paramita
14. As ' Ad
15. Asep Endang Gunawan
16. Asni Januarti
17. Aulia Rahmawati
18. Ayu Wardani
19. Bagus Santoso
20. Bayu Insani
21. Cahyo Fajar K
22. Carlina Rosita
23. Chilfia Karunianty
24. Chomsiyah
25. Cici Wulandari
26. Daniel Hermawan
27. Dede Yunita Putri
28. Dedeng Juheri
29. Dedi Setiawan
30. Deni Mulyadi
31. Desmayenti
32. Dewi Intan Purnama Alam
33. Diah Kartika Rahayu
34. Dian Andari Yuan
35. Dian Nafiatul Awaliyah
36. Dian. I. Iskandar
37. Diar Estiwinengku
38. Dimas Ade Nugroho
39. Dina Fauziah
40. Dina Romadhianingrum
41. Dina Wahyuni
42. Doni Suseno
43. Dwi Aprilytanti Handayani
44. Dwi Isnaini K.
45. Een Kurniati
46. Efriany Susanty
47. Eka Purwani
48. Eka Putri Hapsari
49. Eka Safitri
50. Emi Maryami
51. Endang Sri Sulistiawati Ningsih
52. Endirah Ekaningrum
53. Eniya Linda Kinanti
54. Eric Shandy Admadinata
55. Erni Sariningsih
56. Etika Suryandari
57. Evi Andriani
58. Fera Dyah Normalitasari
59. Fiergi Oktaria
60. Fitri Amaliyah Batubara
61. Fitri Gendrowati
62. Futicha Turisqoh
63. Gardina
64. Gempar Agru Prakassa
65. Hana Widyanti
66. Hani Miftahuljannah
67. Hayatun Thayyibah
68. Helmi Agusrizal
69. Hendra Sugiantoro
70. Hendro Prawidianto
71. Henny Andriyani
72. Hesti Riyantini
73. Ibnu Atoirahman
74. Ida Fauziah, Sp
75. Ihsan Mutaqien
76. Iis Afriyanti
77. Iis Laelani
78. Illa Purnama Sari
79. Ina Apriastin Arok
80. Indah Prisilia
81. Indah Purnama Sari
82. Indah Rozalina
83. Ira Apni Purwasih
84. Irena Puspawardani
85. Irhayati Harun
86. Ivan Triyadi
87. Jamilatun Heni Marfu’ah
88. Jantriwanis
89. Jawahirur L.F
90. Jayusman Lacanda
91. Jazilah Imana
92. Joko Susanto
93. Kahar S. Cahyono
94. Khoirun Nisa'ul Abidah
95. Khomsyah Nurhayati
96. Laksmi Satiti
97. Lathifatun Mu’asyarah Harahap
98. Leila Rizki Niwanda
99. Lina Dwi Astuti
100. Linda Astuti
101. Luluk Khumaidah
102. M. Faizal Ramadhan
103. M.E. Chitra Eka Dewi
104. Maya Romayanti
105. Mayang Ayu Lestari
106. Miftahul Jannah
107. Mildaini
108. Mimin Hari Wahyuni
109. Mira Apriani
110. Misrawati
111. Moh. Afdal Rahman
112. Munawir Syam
113. Murti Yuliastuti
114. Muzakki Bashori
115. Nandini Listya Adiasari
116. Nasruddin Asn
117. Nini Maryana Rayanti Sari Dewi
118. Nining Sumarni
119. Nisfiyah Sya`baniyah Munir
120. Nofitri Suryani Zaiman
121. Novi Aprilia Kumala Dewi
122. Novie Suciati
123. Novitawati
124. Nur Khanifah
125. Nur Intan
126. Nur Karimah
127. Nur Laili Nahdliyah
128. Nurhalimah
129. Nurlaila
130. Nurlaili
131. Nurlaili Br.Sembiring
132. Nurul Fauziah
133. Nurul Ghoni
134. Oci Yonita Marhari
135. Oktaviana Muharromah
136. Okti Lilis Linawati
137. Oliva Virvizat Prasastin
138. Oman Abdurohman Sugandhi
139. Puji Astutik
140. Puput Sekar Kustanti
141. Purwanti
142. Puryanti
143. Puspita Hayuning Kartini
144. Rara Oktaria Nanda
145. Rasfiza
146. Ratih Andriani Khasanah
147. Ratih Indah Lestari
148. Ratna Choirunnisa
149. Ratna Chrisnawati
150. Ratna Dwi Kumala Sari
151. Rendy Jean Satria
152. Reni Astuti
153. Renny Amelia
154. Resirasari Diah Rizkyaputri
155. Retno Kusriyati
156. Ria Fariana
157. Riana Sriwijayanti
158. Riawani Elyta
159. Ridha Fajarwati Hidayah Sutardi
160. Rina Apriani
161. Rinatin Nyoto
162. Rininta Majestica Siregar
163. Rintan Ledi Diana
164. Rissa Aulian
165. Rizky Rachmawati
166. Robinson Elohansen, S.Pd.
167. Rochana Fitriastuti Muryaningsih
168. Rosintan Hasibuan
169. Rosita Kusumawardani
170. Rurin Kurniati
171. S. Hastutiningsih
172. Salma Azzahra
173. Sanusi
174. Sariyanti
175. Sekar Fitri Puji Lestari
176. Sekar Padmi Aditya Loka Samantha
177. Sheila Fitriasari
178. Siami Maysaroh
179. Silmi Nurul Karimah
180. Silvianis
181. Siti Maryam Purwoningrum
182. Sri Rahayu
183. Sri Sugiastuti
184. Sri Wahyuti
185. Sri Winarti
186. Subariyem
187. Suci Rachmawati
188. Sugiarti, S.si
189. Sukimah
190. Sundus Afifah
191. Sutono
192. Tia Marty
193. Tika Artiwi
194. Titin Rostini
195. Tri Juni Ardhi
196. Tumpal Sihombing
197. Tusiana Noor Alfisyahr
198. Ulfah Khaerani
199. Usup Supriyadi
200. Vanda Nur Arieyani
201. Vita Sophia Dini
202. Vivid Dekanawati
203. Widya Fitri
204. Wien Ina Kumala
205. Wyllmarz Pasangka
206. Yanelis Prasenja
207. Yanuar Fajaryani Rahardiana
208. Yossy Wulandari Kusuma Ningrum
209. Yuli Duryat
210. Yuli Misgiyati
211. Yun Widhiatmi
212. Yurmawita Adismal
Melihat banyaknya peserta, tentu saja saya merasa peluang untuk menang semakin tipis, semakin kecil. Tapi tetep optimis saja deh. Banyak-banyak berdo'a sama Allah SWT. Apapun hasilnya nanti insyaAllah yang terbaik. Jika menang itu adalah kehendak-Nya dan menjadi motivator bagi saya. Kalaupun kalah maka itupun kehendak-Nya dan motivator juga untuk terus berkarya lebih baik lagi.
Dan hari ini, Leutika Publisher dan Leutika Prio mengumumkan 30 pemenangnya. Ada namaku di sana. Alhamdulillah... :D
Selamat kepada para pemenang!
No. NAMA ~Judul
1. ADE RAHAYU ~Asma Nadia Adalah Inspirasiku Setelah R.A. Kartini
2. ANISA WIDIYARTI ~Sosok yang Menginspirasi Hidupku
3. DANIEL HERMAWAN ~Berkarya dari Kesederhanaan
4. DESMAYENTI ~Ku Ingin yang Sempurna
5. DIAN ANDARI YUAN ~Indahnya Sebuah Kesabaran
6. DIAR ESTIWINENGKU ~Hidayah yang Tertunda
7. DINA FAUZIAH ~Ketika Aku Ingin Melepas Jilbab
8. DWI APRILYTANTI HANDAYANI ~Menembus Cakrawala Bersama Asma Nadia
9. DWI ISNAINI K.~Satu Asma Nadia untuk Dua Duniaku
10. EKA PURWANI ~Istana Kedua untuk Bapak
11. IRENA PUSPAWARDANI ~Hampir Separoh Umurku Ditemani Asma Nadia
12. JOKO SUSANTO ~2 Hati 1 Cinta Sejuta Warna
13. LEILA RIZKI NIWANDA ~Jangan Jadi Muslimah Biasa-Biasa Saja!
14. LINA DWI ASTUTI ~Asma Nadia, Inspirasiku Terus Berkarya
15. MIFTAHUL JANNAH ~Inilah Aku!!!
16. MILDAINI ~Ketika Cinta Tak Lagi Indah, Saatnya Menelusuri Jejak yang Terlupa
17. MIRA APRIANI ~Di Mataku, Suamiku Sempurna
18. MURTI YULIASTUTI ~Catatan Hati Mom…Wow !
19. RATIH INDAH LESTARI ~Surga Untuk Kita
20. RATNA CHRISNAWATI ~Bukan Sekedar Cinta Biasa
21. RESIRASARI DIAH RIZKYAPUTRI ~Berjanjilah!
22. RIAWANI ELYTA ~Cinta Pembuka Segala
23. RINATIN NYOTO ~Allah, Bersama-Mu Tak Ada Jalan Buntu
24. RISSA AULIAN ~Menjadi Istri Paling Bahagia
25. ROSINTAN HASIBUAN ~Pertemuan Tak Sengaja
26. SANUSI ~Cinta Laki-laki Biasa yang Luar Biasa
27. SUKIMAH ~Catatan Hati Seorang Istri, Catatan Hati yang Menyadarkanku
28. VITA SOPHIA DINI ~Asma Nadia: Idola, Inspirator, Motivator
29. WIDYA FITRI ~Mba Asma Bikin Aku Tambah Nekad
30. YULI MISGIYATI ~Guru Anakku Sekolah di PAUD
Selamat juga bagi semua Pemenang Masa Depan!
Kesempatan berkarya di masa depan semakin besar.
Keep Spirit!
Terus Berkarya Leutikans!
Ayo sahabat... Terus berkarya... Setiap ada event, coba aja. Jangan takut dan minder. Seperti saya contohnya, modal nekat aja... :)
Selamat berkarya Sahabat... :)
Minggu, 03 April 2011
Evra, Si Peri Cantik

Tubuhnya mungil, wajahnya cantik. Matanya indah, jemarinya juga lentik. Ada sayap yang begitu indah di punggungnya. Dia terduduk manis di meja riasku di antara alat-alat make up ku. Dia menatapku dan tersenyum manis.
Mungkin aku sudah gila. Atau ini sungguh hanya mimpi? Benarkah peri itu ada? Bukan sekedar dongeng belaka?
Berulang kali aku ingin mengingkarinya. Tapi di hadapanku kini sedang ada salah satu diantara mereka, Evra, peri bunga matahari.
"Aku pasti sedang bermimpi kan?" kataku masih tidak percaya.
Tiba-tiba Evra melesat terbang ke arah wajahku dan menarik pipiku.
"Awww....!" jeritku.
"Apa yang kau lakukan? Sakit tahu!"
Evra tersenyum, lalu kembali duduk di meja riasku.
"Katamu kau tidak percaya kalau aku ini nyata? Aku hanya mencubitmu agar kau sadar bahwa ini bukan mimpi, tapi nyata. Aku sungguh ada, Naida. Di luar sana masih banyak yang sepertiku. Hanya mereka tak berani menemuimu dan teman-temanmu. Bagi kami, kalian itu menakutkan."
Evra memasang wajah marah dan menyilangkan tangannya. Aku benar-benar seperti sedang bermain boneka barbie.
"Kenapa menurut kalian kami menakutkan?"
"Karena kalian sudah menebang banyak pohon di hutan sana. Banyak teman-temanku yang kehilangan rumahnya dan mengungsi ke tempat-tempat yang lebih kotor. Kemari...!" Evra melayang dan melesat ke arah jendela. Aku megikutinya.
"Kau lihat pohon itu?" jemari mungil Evra menunjuk ke arah pohon di tepi jalan. Aku mengangguk.
"Di sana ada banyak teman-temanku. Mereka terpaksa tinggal di sana karena tidak ada pilihan lain. Sebagian diantara mereka mulai sakit-sakitan. Udara di sekitar tempat tinggal mereka kotor. Rumah mereka di hutan sana sudah habis kalian tebang. Jika kalian terus menerus demikian, maka kami mungkin sungguh hanya akan tinggal kenangan. Sekedar cerita dan dongeng tanpa bisa menunjukkan keberadaan kami yang sesungguhnya."
Evra menunduk. Ada bulir-bulir bening mengalir di pipinya. Ingin rasanya aku menghapus airmata itu, Tapi bagaimana caranya? Dia terlalu kecil, bahkan untuk memeluknya saja aku takut menyakitinya. Dia terlalu mungil.
"Hai, jangan sedih, Evra..." Aku mencoba menghiburnya. Tapi sepertinya Evra benar-benar sedih. Aku hanya menunggunya hingga ia puas menangis.
"Naida, maukah kau membantuku?" tanya Evra tiba-tiba.
Aku mengangguk.
"Apa yang bisa kulakukan untukmu, Evra?"
"Kulihat masih banyak ruang tanah kosong di belakang rumahmu. Bisakah kau menanam lebih banyak lagi tanaman? Pepohonan atau bunga-bungaan juga boleh. Semakin banyak kau menanam pohon dan tumbuhan lainnya, maka kau sudah membantu teman-temanku untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak. Aku tahu, rumahmu selalu bersih. Tidak banyak polusi di sini. Tidak seperti di sana tadi. Menurutku jika teman-temanku pindah tinggal di sini mungkin kondisi mereka akan membaik." Evra sangat bersemangat mengatakan ide tentang menanam pohon itu.
Aku mengangguk. Senang melihat Evra kembali bersemangat.
(bersambung kapan-kapan ya... ^_^)
Hujan, Ella Dan Shea

By Lina Lidia
Hawa dingin membuatku bertahan dalam hangat peluk selimut. Di luar terdengar denting merdu air hujan yang menapaki genting sebelum jatuh ke tanah. Aku masih terpejam meski tidak bisa dibilang tidur. Aku sedang menikmati irama alam yang begitu indah.
Angin berbisik mesra di celah daun jendela yang tidak kututup rapat tadi malam. Di luar, hujan masih setia menyirami setiap inci bumi nan kering dan gersang.
“Romantis bukan?” Celie yang sedari tadi menatap hujan dari balik jendela menoleh padaku.
“Apanya? Hujan bukankah memang selalu begitu?” aku masih enggan beranjak, kembali kutarik selimut.
“Sungguh tidak tahu? Hujan adalah momen romantis. Hanya ketika hujan, Ella bisa mencium mesra kekasihnya, Shea. Hanya melalui hujan Nixie akan bertahan untuk menjaga Shea.”
Aku menarik selimut hingga menutup kepalaku. Celie sudah kambuh dengan segala dongeng tentang hujan dan segala makhluk uniknya. Aku memilih untuk kembali terlelap.
***
“Ella… Ella … Ella …” suara itu semakin dekat. Aku berhenti, menoleh dan terkejut ketika ada sesosok lelaki tampan berdiri di sana. Dia tersenyum padaku, manis sekali.
“Ella, aku merindukanmu!” tiba-tiba dia memelukku erat.
Aneh. Aku bahkan tidak menolak atau pun berusaha melepaskan pelukannya. Seakan aku mampu membaca detak jantungnya yang mengalun merdu bagai sajak indah tentang rindu. Hatiku merasakan hal yang sama, kerinduan.
“Shea…”
Merdu sekali. Tunggu, suara itu keluar dari mulutku. Suaraku?
“Ayo cepat, sebelum para Shefro melihat kita,” Shea menarik tanganku dan kami menyusuri hutan itu. Kami berhenti di seberang air terjun.
“Kenapa Shea?”
Aku masih takjub dengan merdu suaraku dan ringan tubuhku.
Hah? Ada sayap di punggungku. Sayap itu bening dan terlihat basah. Tidak, kurasa memang selalu basah atau mungkin karena gerimis yang tak juga berhenti.
“Para Shefro pasti akan melaporkan keberadaanmu di sini kepada Raja Auberon. Aku tidak ingin kamu dihukum lagi. Telah lama kita tidak bertemu sejak kamu tidak diijinkan turun lagi ke bumi. Aku merindukanmu, Ella.”
Kami berpandangan. Kemudian dia mengajakku memasuki sebuah lorong kecil di samping air terjun.
“Aaaa…!”

Shea berbalik, menatapku heran. Wajahnya panik mendengar jerit kesakitanku.
Sayapku? Sayapku rusak, sebagian bahkan telah patah.
“Amarok!” pekik Shea marah.
Serigala bersayap itu berhasil mencabik salah satu sayapku. Aku menahan sakit, mencoba bangkit tapi gagal. Aku terjatuh lagi. Shea masih berusaha mengecoh Amarok.
Pandanganku kabur. Hanya sekilas menyadari ada sosok yang membawaku, entah siapa.
***

“Nixie, terimakasih sudah menolong Ella,” Aku mendengar suara Shea.
Mataku masih berat. Aku mencoba membuka mata, pandanganku masih kabur.
“Tidak perlu berterimakasih, Shea. Sudah seharusnya aku melakukan itu karena Ella adalah saudaraku. Sekarang beristirahatlah. Luka di punggungmu masih belum kering. Sayapmu juga belum kokoh kembali. Amarok telah mencabik sayap kirimu sedemikian parahnya.”
Suara merdu itu tidak asing bagiku. Aku mencoba sekuat tenaga membuka mataku. Celie?
“Celie…!” Suaraku hilang ketika mencoba memanggil namanya. Seakan suaraku tertelan angin di sekelilingku. Hilang. Bahkan Shea pun tidak mendengarnya.
“Kamu sudah siuman? Syukurlah! Maafkan aku Ella. Aku gagal menjagamu. Mungkin Raja Auberon benar. Kamu akan lebih aman tinggal di Elfame. Di sana, Amarok tidak akan bisa menyentuhmu.”
Shea menatapku. Matanya berkaca-kaca. Aku tahu, Shea sangat ingin bersamaku seperti halnya hatiku yang juga meminta bersamanya selalu. Tapi bisa kupahami kenapa Shea memintaku kembali ke Elfame, hanya di sanalah Amarok tidak akan bisa menyakitiku lagi.
“Mereka sudah di luar. Kamu sudah bisa bangun, Ella?”
Aku mengangguk.
“Terimakasih, Nixie!” Shea tersenyum pada Nixie. Ya, Nixie yang sama persis seperti sosok Celie.
Aku bangkit dari pembaringan. Di luar, telah menunggu beberapa Shefro untuk membawaku kembali ke Elfame.
Aku menoleh ke arah Shea. Ada embun di matanya.
“Shea…”
Aku memeluknya erat. Sungguh tak sanggup aku meninggalkannya ketika air mata itu akhirnya tertumpah juga.
“Aku akan datang kepadamu setiap kali hujan turun. Aku akan selalu memeluk dan menciummu ketika air hujanku membasahi bumimu. Aku mencintaimu, Shea.”
Aku kembali memeluknya. Tapi para Shefro segera mengingatkanku untuk kembali pulang ke Elfame sebelum Amarok kembali membuat keonaran dan melukaiku.
Aku menatap lekat wajah Shea yang basah. Aku semakin menjauh dan akhirnya aku tak lagi bisa melihatnya sekalipun sekedar bayangan.
***

“Ini waktumu. Temuilah kekasihmu. Dia sudah menunggu. Tapi kamu harus ingat, waktumu tidak banyak. Sebelum Amarok menyadari kehadiranmu di bumi segeralah kembali. Hanya Elfame tempat teraman untukmu, Ella.”
Raja Auberon memintaku menurunkan hujan ke bumi sekaligus mengingatkanku untuk segera kembali sebelum Amarok kembali melukaiku.
“Shea…” Aku segera terjun ke bumi dengan menggenggam selaksa rindu.
Aku adalah Ella, peri mungil dan kamu, Shea, penjaga bumi. Kita bertemu ketika mendung menghampiri dan hujan membasahi bumi. Aku meluruh, merengkuhmu dalam pelukku dan menciummu penuh rindu. Meski aku di langit, kamu di bumi tapi hati dan cintaku abadi untukmu, Shea.
***
“Naida, ini sudah jam sepuluh. Kamu ga mau bangun.”
Mataku silau ketika selimutku ditarik. Di luar hujan telah berhenti, matahari telah kembali hadirkan teriknya. Aku meraih handuk dan bergegas mandi. Baru kuingat, ada janji dengan Alvin di kampus siang ini.
Kepalaku berdenyut-denyut. Apa yang baru saja kualami ternyata hanya mimpi. Ah, rasanya aku telah menempuh perjalanan waktu yang panjang. Mimpiku bahkan telah entah berapa episode.
Aku menatap sebuah gambar di meja belajarku.
Hutan, air terjun, serigala bersayap, dan beberapa peri kecil. Ah, pasti karena semua gambar Celie ini aku mengalami mimpi aneh barusan. Aku melanjutkan langkahku menuju kamar mandi.
Aku terkejut ketika membuka pintu, hendak keluar dari kamar mandi dan Celie telah menantiku dengan senyum merekah di bibirnya.
“Kenapa?” tanyaku heran melihat ekspresinya.
“Naida, kamu ini sok jaim. Selalu mengomentariku kalau sedang bercerita tentang peri. Tapi diam-diam menggambar kisah peri ini untukku,” Senyum Celie semakin lebar ketika menunjukkan gambar di tangannya padaku.
Hah? Gambar itu?! Jadi bukan Celie yang menggambar semua itu?
Mataku menangkap suatu bayangan di jendela. Aku berlari mendekati jendela.
Hah? Sayap? Makhluk kecil bersayap?
Kepalaku kembali berdenyut.
“Naida…!”
Hanya suara Celie yang terakhir ku dengar. Selebihnya, aku lupa.
“Shea…”
*Shea = peri bumi, tinggal di bawah permukaan tanah.
*Ella = peri hujan, tinggal di Elfame, negeri para peri di langit.
*Amarok = iblis berbentuk serigala bersayap.
*Raja Auberon = raja/pemimpin para peri
*Shefro = pasukan peri.
*Nixie = peri air, tinggal di danau, sungai dan laut.
Sabtu, 02 April 2011
Sedih vs Sukacita
Aku lupa. Apa? Ah, semua telah hilang. Aku tidak ingat. Bahkan benar-benar tidak ingin mengingat. Amnesia? Sungguh kah? Seandainya iya, aku berharap tak akan sembuh dari amnesia. Biarlah aku begini saja. Melupa. Semua masa lalu yang kelam.
Pahit? Hampir seluruh hidupku. Mungkin juga terhadap yang kulupa. Apakah semua memang gelap untukku? Sedangkan aku bahkan tak tahu apa itu terang? Apa itu cahaya? Apa itu lentera? Dan apa itu benderang?
Mendung. Kelabu. Gelap. Gulita. Kelam. Hanya itu yang kukenal.
Lalu, apa itu? Menyilaukan mata. Datang mendekat. Aku takut. Terduduk lemah di sudut, jika bisa kubilang. Aku bahkan tak tahu ruang. Aku hanya terduduk di sini, bersandar pada dinding keras. Apa namanya? Entahlah.
Aku takut. Ada yang datang. Mendekat. Aku terpejam. Diam.
Apa ini? Hangat. Tidak menyakitkan. Aku satukan keberanian. Kubuka mata perlahan.
Apa ini?
"Itu rumput," suara itu menggema.
Aku menoleh. Sepi. Hanya aku sendiri.
Apa itu? Ah, silau. Mataku sakit.
"Itu matahari. Sumber cahaya. Sumber kehidupan makhluk hidup, termasuk kamu dan rumput itu," suara itu kembali menggema.
Aku berjingkat. Tubuhku ringan. Tak lagi berat. Aku terbang. Tanpa sayap? Bagaimana bisa?
"Kebahagiaan, itu sayapmu yang tak kasat," lagi-lagi suara yang sama.
Aku berbeda. Aku tertawa. Aku melayang. Ke langit biru, kata suara itu.
"Itu burung."
"Itu pepohonan."
"Itu pelangi. Warna-warni penghias langit."
"Itu bintang dan rembulan. Kawan dikala malam."
"Itu kunang-kunang."
"Itu..."
"Itu..."
Aku mengenal semuanya. Aku mengingat semuanya. Aku bukan lagi Sedih. Aku ingat. Aku adalah Sukacita.
Aku tertawa. Aku cantik. Aku berkawan Bahagia. Aku berbalut Kasih. Aku bersahabat dengan Sayang.
Aku Sukacita. Aku hidup kembali. Aku menghiasi dunia. Aku "pelangi" dunia. Aku "penghias" dunia.
Aku Sukacita.
Pahit? Hampir seluruh hidupku. Mungkin juga terhadap yang kulupa. Apakah semua memang gelap untukku? Sedangkan aku bahkan tak tahu apa itu terang? Apa itu cahaya? Apa itu lentera? Dan apa itu benderang?
Mendung. Kelabu. Gelap. Gulita. Kelam. Hanya itu yang kukenal.
Lalu, apa itu? Menyilaukan mata. Datang mendekat. Aku takut. Terduduk lemah di sudut, jika bisa kubilang. Aku bahkan tak tahu ruang. Aku hanya terduduk di sini, bersandar pada dinding keras. Apa namanya? Entahlah.
Aku takut. Ada yang datang. Mendekat. Aku terpejam. Diam.
Apa ini? Hangat. Tidak menyakitkan. Aku satukan keberanian. Kubuka mata perlahan.
Apa ini?
"Itu rumput," suara itu menggema.
Aku menoleh. Sepi. Hanya aku sendiri.
Apa itu? Ah, silau. Mataku sakit.
"Itu matahari. Sumber cahaya. Sumber kehidupan makhluk hidup, termasuk kamu dan rumput itu," suara itu kembali menggema.
Aku berjingkat. Tubuhku ringan. Tak lagi berat. Aku terbang. Tanpa sayap? Bagaimana bisa?
"Kebahagiaan, itu sayapmu yang tak kasat," lagi-lagi suara yang sama.
Aku berbeda. Aku tertawa. Aku melayang. Ke langit biru, kata suara itu.
"Itu burung."
"Itu pepohonan."
"Itu pelangi. Warna-warni penghias langit."
"Itu bintang dan rembulan. Kawan dikala malam."
"Itu kunang-kunang."
"Itu..."
"Itu..."
Aku mengenal semuanya. Aku mengingat semuanya. Aku bukan lagi Sedih. Aku ingat. Aku adalah Sukacita.
Aku tertawa. Aku cantik. Aku berkawan Bahagia. Aku berbalut Kasih. Aku bersahabat dengan Sayang.
Aku Sukacita. Aku hidup kembali. Aku menghiasi dunia. Aku "pelangi" dunia. Aku "penghias" dunia.
Aku Sukacita.
Jumat, 01 April 2011
Gerimis, Hujan dan Rindu
Aku terbangun oleh denting gerimis menimpa atap. Nyaring, indah dan berpadu menjadi irama yang unik. Hawa dingin memaksaku bertahan di sini, pada hangat peluk selimut. Aku memejamkan mata, tapi tidak kembali tidur. Aku sedang belajar meresapi tiap alunan irama yang tercipta pada denting nada indah sang gerimis. Tak hanya itu, aku menarik napas pelan berusaha menghirup aroma air hujan yang menyentuh tanah kering dan tandus. Aku tersenyum, layaknya seorang puteri yang berjumpa pangeran yang sangat dirindukannya. Aku rindu. Sangat merindukan saat-saat seperti ini. Ketika air langit mencium mesra tanah nan kering, yang nyaris mati kehausan dalam rindu.
Perlahan aku membuka mataku ketika aku merasa puas menghirup dalam-dalam aroma air langit yang sedang bermesra dengan keringnya tanah di pagi hari. Aku bangun dari tidurku, melepaskan hangatnya pelukan selimut. Aku berjalan mendekati jendela, mengintip tetesan air langit yang jatuh bergantian dari satu daun ke daun yang lain berurutan dari daun teratas hingga meluruh jatuh ke tanah. Denting gerimis di atap makin keras, pertanda tak lagi hanya gerimis melainkan hujan deras mulai mengguyur bumi nan kering.
Indah, aku menikmati semua keindahan yang mengawali pagi ini tanpa henti berucap syukur. Aku masih merasakan euforia romantis yang terasa aneh ketika tiba-tiba menelusup perlahan di hatiku. Ah, selalu begini. Ketika mendung ataupun hujan turun selalu begini, ada rasa yang seakan merasuk paksa di hatiku. Apakah benar ada pengaruh antara hujan dan jiwa romantis-melankolis?
Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, aku selalu menikmati sensasi perasaan yang sama tiap kali hujan meluruh turun menuju kaki bumi. Di sinilah aku kini, menikmati tiap tetesan air langit penuh cinta yang terus menerus mencium mesra sang bumi. Aku terpana pada cinta yang tak henti mengalir dari langit sana untuk semua makhluk di bumi.
Tapi kenapa aku hanya terdiam di sini? Menikmati alunan musik alam yang kian membuatku seakan terhipnotis dan melayang, pun aroma keharuman unik yang tercium teramat dalam. Bukankah aku harusnya ikut menari? Menarikan pena mengikuti alunan pikiran dan merangkai kata menjadi bait indah penuh makna. Mengubah keindahan semesta menjadi bait syukur nan menyeru dan mengucap lembut nama-Nya penuh cinta. Ah, iya... Aku harus. Aku merasa memiliki keharusan untuk menuliskannya. Di sinilah kini, aku terduduk merindu. Menghadap pada layar mungil nan setia menemaniku, menjadi media untuk menuangkan segala isi pikiran dan perasaanku. Di sinilah aku, merangkai kata penuh cinta, juga menyusun tiap bait rindu nan terus menggunung di hatiku.
Aku merindu. Selalu merindu, pada peluk hangat penuh cinta milik ibu. Selalu, tiap kali hujan meluruh menghadirkan dingin yang menusuk hingga tulang-tulangku. Tapi kini tak mungkin aku merasakan itu, hanya hangat peluk selimut yang bisa kurasakan. Meski tak akan pernah bisa sehangat pelukan hangatnya.
Hujan, rindu itu selalu datang. Seperti halnya tetesan langit yang meluruh jatuh ke bumi untuk mengobati segala rindunya.
Perlahan aku membuka mataku ketika aku merasa puas menghirup dalam-dalam aroma air langit yang sedang bermesra dengan keringnya tanah di pagi hari. Aku bangun dari tidurku, melepaskan hangatnya pelukan selimut. Aku berjalan mendekati jendela, mengintip tetesan air langit yang jatuh bergantian dari satu daun ke daun yang lain berurutan dari daun teratas hingga meluruh jatuh ke tanah. Denting gerimis di atap makin keras, pertanda tak lagi hanya gerimis melainkan hujan deras mulai mengguyur bumi nan kering.
Indah, aku menikmati semua keindahan yang mengawali pagi ini tanpa henti berucap syukur. Aku masih merasakan euforia romantis yang terasa aneh ketika tiba-tiba menelusup perlahan di hatiku. Ah, selalu begini. Ketika mendung ataupun hujan turun selalu begini, ada rasa yang seakan merasuk paksa di hatiku. Apakah benar ada pengaruh antara hujan dan jiwa romantis-melankolis?
Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, aku selalu menikmati sensasi perasaan yang sama tiap kali hujan meluruh turun menuju kaki bumi. Di sinilah aku kini, menikmati tiap tetesan air langit penuh cinta yang terus menerus mencium mesra sang bumi. Aku terpana pada cinta yang tak henti mengalir dari langit sana untuk semua makhluk di bumi.
Tapi kenapa aku hanya terdiam di sini? Menikmati alunan musik alam yang kian membuatku seakan terhipnotis dan melayang, pun aroma keharuman unik yang tercium teramat dalam. Bukankah aku harusnya ikut menari? Menarikan pena mengikuti alunan pikiran dan merangkai kata menjadi bait indah penuh makna. Mengubah keindahan semesta menjadi bait syukur nan menyeru dan mengucap lembut nama-Nya penuh cinta. Ah, iya... Aku harus. Aku merasa memiliki keharusan untuk menuliskannya. Di sinilah kini, aku terduduk merindu. Menghadap pada layar mungil nan setia menemaniku, menjadi media untuk menuangkan segala isi pikiran dan perasaanku. Di sinilah aku, merangkai kata penuh cinta, juga menyusun tiap bait rindu nan terus menggunung di hatiku.
Aku merindu. Selalu merindu, pada peluk hangat penuh cinta milik ibu. Selalu, tiap kali hujan meluruh menghadirkan dingin yang menusuk hingga tulang-tulangku. Tapi kini tak mungkin aku merasakan itu, hanya hangat peluk selimut yang bisa kurasakan. Meski tak akan pernah bisa sehangat pelukan hangatnya.
Hujan, rindu itu selalu datang. Seperti halnya tetesan langit yang meluruh jatuh ke bumi untuk mengobati segala rindunya.
Langganan:
Postingan (Atom)