Assalamu'alaykum...
Selamat Datang.... ^_^
Selamat Datang.... ^_^
Senin, 13 Mei 2013
Untuk Siapa Cintamu?
Bicara tentang cinta seakan tak kan habis kata. Selalu muncul bahasan cinta dari berbagai persepsi. Jika pertanyaan di atas ditujukan kepada kita, kira-kira apakah yang akan menjadi jawabannya? Akankah cinta untuk ibu? Ayah? Orang tua? Suami/istri? Anak?
Tidak salah kok jawaban-jawaban tersebut. Tapi akan lebih tepat jika kita tujukan cinta kita kepada Allah Swt. Sehingga tak hanya indah dalam kata melainkan juga lebih bermakna. Kita mencintai ibu kita karena Allah Swt. Kita mencintai ayah kita karena Allah Swt. Kita mencintai pasangan kita (suami/istri) karena Allah Swt. Kita mencintai anak-anak kita pun juga karena Allah Swt. Indah bukan? :)
Terkadang ketika cinta kita terfokus pada makhluk ciptaan-Nya, akan sangat mudah sekali kita merasa kecewa karena satu atau lain hal. Misalnya, kita mencintai orang tua kita tapi suatu ketika orang tua kita menentang satu atau lain hal dari keinginan kita, hati dan perasaan kita timbul kecewa. Ketika kita sayang dan mencintai pasangan kita, lalu ia melakukan kesalahan yang tidak terduga, kita pun kecewa. Demikian juga ketika anak-anak yang kita cintai tiba-tiba berbuat suatu kesalahan, tak jarang kekecawaan itu pun tergurat tegas di wajah kita. Kenapa? Karena kita terlalu berharap kepada sesama makhluk ciptaan-Nya, yang mana sama-sama tak sempurna dan syarat dengan khilaf dan cela.
Namun, hal tersebut mungkin akan berbeda ketika kita sandarkan pengharapan kita hanya pada Allah Swt semata. Dimana cinta kita untuk siapa saja makhluk-Nya tetap kita sandarkan dasar cintanya karena Allah Swt. Sehingga ketika kenyataan tak sesuai pengharapan kita, hati kita tak akan terlalu kecewa dan terluka. Kita akan kembalikan itu kepada Allah Swt dan menyadari bahwa orang yang kita hadapi pun sama seperti halnya kita. Sama-sama makhluk-Nya yang setiap saat memiliki kemungkinan dan kesempatan yang sama untuk berbuat salah dan khilaf.
Lalu, bagaimana menyikapi hati yang sudah terlanjur kecewa dan terluka? Istighfar-lah. Mohon perlindunganlah kepada Allah Swt dari godaan syaitan yang selalu membisiki hati kita untuk saling membenci, mencela dan menyimpan dendam dalam dada. Mari mencoba untuk sama-sama legowo, mengikhlaskannya dan mencoba untuk tulus memaafkannya. Sehingga kita tak terjebak dalam sakit, luka, kecewa dan dendam yang hanya akan menyakiti diri kita sendiri.
Kalau kata Mas Rangga Umara, pemiliki usaha Pecel Lele Lela, jangan meracuni diri dengan menyimpan luka. Tapi coba lepaskanlah luka itu agar kita lebih mudah dan langkah kita lebih ringan ke depannya. Jangan menyiksa diri dengan kebencian karena trauma masa lalu. Coba buka genggaman itu, lepaskan, buang jauh agar hidup kita lebih bahagia dan bibir kita mudah untuk mengukir senyum cerah gemilang.
Kata Mas Rangga, di luar negeri ada metode menangkap monyet dengan suatu alat yg tidak menyakitinya. Yaitu dengan sebuah toples berleher panjang yang ditanam di dalam tanah. Toples itu makin ke dalam semakin sempit dan di dalamnya terdapat kacang kesukaan monyet-monyet tersebut. Toples jebakan tersebut ditanam di wilayah yang sering dilewati oleh kawanan monyet-monyet. Dan monyet yang tertarik melihat kacang dalam toples jebakan itu serta merta akan memasukkan tangannya untuk mengambil kacang tersebut. Karena menggenggam kacang tersebut, maka tangannya terjepit dalam toples sehingga dengan mudah monyet tersebut dapat ditangkap tanpa melukainya. Mungkin kita akan menertawakan monyet-monyet tersebut. Padahal terkadang secara tidak sadar kita pun mengikuti tingkat laku monyet-monyet itu. Seandainya monyet-monyet itu melepaskan genggamannya maka mereka dapat menarik tangannya keluar dari toples dan tidak tertangkap. Demikian juga dengan halnya manusia, seandainya kita mau melepaskan luka, dendam, sakit hati dan trauma masa lalu, mungkin akan lebih bahagia hati kita. Dan akan lebih mudah bagi kita untuk merasakan dan memaknai apa itu bahagia dan bagaimana itu indahnya tawa.
Tetiba, saya teringat tweetnya Mb Merry Riana, yang mengatakan bahwa cinta itu bukan hanya perasaan senang ketika bersamanya tetapi cinta juga adalah komitmen untuk tetap bersamanya, ketika perasaan senang itu hilang.
Ya, kalau cinta kita dangkal hanya karena manusia dan mencintainya karena apa yang ada padanya, maka rasa cinta itu akan mudah sekali untuk menguap ketika sebab atau alasan cinta itu sirna daripadanya. Namun, jika cinta karena Allah Swt dan niatnya karena ibadah kepada Allah Swt, seharusnya cinta itu membuat kita tetap tegar memegang komitmen dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan dari-Nya. Bahwa cinta itu itu tak selamanya indah, tak selalu merah jambu, tapi bisa berwana hijau, merah, putih ataupun kelabu. Cinta tak melulu berbunga dan ceria, tapi kadang perlu warna lain untuk membuat pecintanya menjadi lebih kuat dan bijaksana. Namun, saat cinta itu disandarkan pada Allah Swt dan diniatkan untuk beribadah kepada Allah Swt yang dilandasi keimanan (separuhnya dalam sabar dan separuh lagi dalam syukur) insyaAllah, cinta itu akan membawa kita happily ever after (kayak dongeng aja :p).
Dan, kalau kita penasaran dengan adakah cinta semacam itu? Ada. Lihatlah kisah cinta Ibrahim as dan Siti Hajar, kisah cinta Adam dan Hawa, kisah cinta Rasulullah Saw dan Siti Khadijah, Kisah cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra, pun ada kisah yang tak kalah melegenda yaitu Yusuf as dan Zulaikha.
Hmm..... Kayaknya sudah terlalu banyak bercerita kemana-mana. Harapannya semoga coretan ini sedikit saja bisa memberi manfaat untuk yang membaca. Aamiin.
Senin, 06 Mei 2013
Wanita Pemimpin Di Rumah Suaminya
Assalamu'alaykum....
Selamat pagi... ^-^
Senin pagi orang cenderung menikmati waktu mereka bermacet-macet ria menuju tempat kerja, khususnya di Jakarta ini. Nah, untuk menemani yang mungkin masih terjebak macet di jalan, pagi ini aku akan sedikit berbagi tentang sebuah materi yang beberapa hari lalu kuperoleh saat mengikuti kajian. Seperti judul di atas, bahasan ini menegaskan tentang posisi wanita sebagai pemimpin di rumah suaminya... yah, rumah dia juga sih bersama anak-anak tentunya...hehehehe
Dalam Islam, wanita sangat dimuliakan. Hal ini terlihat bahwa salah satu nama surah dalam Al Qur'an adalah An Nisa' yang artinya adalah wanita. Jika pada zaman jahiliyah dulu peran wanita seakan tidak dianggap, dikerdilkan bahkan ada yang menganggap sebagai sebuah aib yang harus disembunyikan, berbeda halnya setelah syariat Islam ditegakkan, peran wanita semakin dimuliakan. Wanita dalam keluarga adalah sebagai tiangnya, yang kemudian perannya berkembang dari istri kemudian memegang peran ganda sebagai istri untuk suaminya sekaligus ibu dari anak-anaknya. Hal tersebut pun masih memungkinkan peran ganda lain yang harus diperankan oleh sosok wanita ini dalam keluarga, misalnya sebagai teman diskusi suami, penasehat suami, teman bercerita anak-anak, sahabat bermain bagi anak-anak, dan masih banyak lagi. Subhanallah.... Betapa mulia dan hebatnya bukan peran seorang wanita dalam keluarga. ^-^
Wanita sendiri dalam menyikapi sesuatu hal bisa bersikap reaktif namun akan lebih utama jika dia bisa bersikap proaktif. Jika wanita reaktif itu menunggu rangsangan dari luar berupa kejadian, peristiwa atau permasalahan dulu baru menyikapinya, berbeda dengan wanita proaktif yang jauh lebih aware terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada sebelum hal tersebut terjadi. Sehingga wanita proaktif lebih mengembangkan antisipasi bukan reaksi semata. Terlebih lagi peran wanita sebagai ibu adalah sebagai madrasah pertama untuk anak-anaknya, sehingga memegang peranan penting dalam mendidik anak-anaknya. Untuk itu, jika terdapat permasalahan dalam diri anak, jangan buru-buru menghakimi anak tersebut, tapi akan lebih utama jika melakukan evaluasi dan koreksi terhadap si ibu. Apakah kiranya ibu telah mendidik anak tersebut dengan semestinya? Apakah ibu telah melakukan antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan permasalahan yang akan dihadapi anak dan bagaimana pemecahannya?
Mendidik anak tidak semata menyampaikan melalui ucapan namun akan lebih utama melalui sikap yang bisa menjadi teladan. Bukankah satu teladan lebih utama dibandingkan 1000 kata-kata? ^-^
Sebagai madrasah pertama, ibu tidak hanya mengajarkan tentang seluk-beluk kehidupan dunia, akademis dan lainnya. Namun, yang lebih utama adalah mempersiapkan anak tersebut dari segi rohaniyah dan akhlak terpuji agar kelak tetap kokoh berdiri di tengah banyaknya cobaan dan godaan dalam hidup ini. Agar anak tetap lurus melangkah ke depan tanpa tersesat dalam menentukan arah, karena tujuan akhirnya sama yakni ridho Illahi. Pendidikan rohaniyah terhadap anak ini seharusnya dimulai sejak proses sebelum anak ini hadir, artinya sejak kedua orang tuanya merencanakan untuk memiliki anak. Seharusnya kedua calon orang tua membekali diri dengan bekal rohani yang kuat. Demikian pula halnya ketika anak dalam kandungan, ibu harus membiasakan melakukan hal-hal yang baik dan mulai mendidik anak tersebut dalam ilmu agama, seperti membaca Al Qur'an, sholat, bersilaturahim, mentadzaburi Al Qur'an dan kebiasaan-kebiasaan baik lainya.
Setelah anak tersebut lahir, sebagai orang tua, terutama ibu, harus pintar-pintar memilih metode dalam mendidik anak. Tidak boleh otoriter apalagi kasar, tetapi tidak boleh juga terlalu memanjakan. Ibu harus memandu anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, mengajarkan bagaimana berdemokrasi dalam keluarga serta mendorong anak untuk berani mengungkapkan pendapat. Sebagai seorang ibu, akan lebih sangat membantu dalam mendidik anak ketika ia bisa memahami bahasa non verbal anak, sehingga terdapat ikatan kuat antara ibu dan anak-anak yang insyaAllah akan lebih mudah dalam mengarahkan anak-anak untuk bisa lebih baik dari waktu ke waktu.
Sebagai istri, tugas wanita tak kalah penting dan utama. Wilayah kebijakan dan kekuasaan istri adalah dalam domestik keluarga sedangkan suami adalah di luar keluarga, khususnya dalam mencari nafkah untuk keluarga. Dengan adanya pembagian tugas dan teritori ini insyaAllah bukan untuk saling beradu kekuasaan dan saling menonjolkan melainkan untuk saling melengkapi dan menyeimbangkan. Istri dilarang untuk mengumbar keburukan suami. Lalu, bagaimana jika memang suami itu buruk perangainya? Coba evaluasi dan koreksi berdua, dengan bahasa cinta dari ke hati tanpa melukai hati masing-masing tanpa perlu mengumbar ke luar. Bagaimana ketika istri dan suami berselisih paham? Berselisih pahamlah di dalam kamar saat berdua, jangan di hadapan anak-anak. Dan ketika kembali di depan anak-anak, maka bersatu katalah. ^-^
Tugas istri di depan suami bukan sekedar menyenangkan suami, menjaga perut suami selalu dalam keadaan kenyang, memenuhi kebutuhan suami, menyenangkan untuk dilihat dan dalam pendengaran tetapi juga menunjukkannya dengan keadaan anak-anak yang terawat dan terdidik serta berbuat baik dengan orang tua, saudara dan kerabat suami. Sekilas kata, tugas istri seakan begitu bejibun, menumpuk, berat dan sulit, akan tetapi jika niat kita karena ibadah kepada Allah Swt niscaya kita akan senantiasa diberikan kekuatan dan kemudahan untuk melaksanakannya. Itulah kenapa, beberapa suami menginginkan istrinya untuk menjadi ibu rumah tangga saja daripada sibuk mengejar karir. Toh, di akhirat nanti yang pertama dimintai pertanggungjawabannya (setelah sholat dll) bukan bagaimana karirnya di dunia, tetapi bagaimana dia dalam menjalankan amanah sebagai ibu terutama dalam merawat dan mengurus suami dan anak-anaknya serta mendidik anak-anaknya.
Sepertinya pembahasanannya sudah terlalu panjang lebar deh... Jadi ga enak nih...hehehe
Demikian dulu yang bisa dishare, semoga bermanfaat ya...
Wassalamu'alaykum.... ^-^
Selamat pagi... ^-^
Senin pagi orang cenderung menikmati waktu mereka bermacet-macet ria menuju tempat kerja, khususnya di Jakarta ini. Nah, untuk menemani yang mungkin masih terjebak macet di jalan, pagi ini aku akan sedikit berbagi tentang sebuah materi yang beberapa hari lalu kuperoleh saat mengikuti kajian. Seperti judul di atas, bahasan ini menegaskan tentang posisi wanita sebagai pemimpin di rumah suaminya... yah, rumah dia juga sih bersama anak-anak tentunya...hehehehe
Dalam Islam, wanita sangat dimuliakan. Hal ini terlihat bahwa salah satu nama surah dalam Al Qur'an adalah An Nisa' yang artinya adalah wanita. Jika pada zaman jahiliyah dulu peran wanita seakan tidak dianggap, dikerdilkan bahkan ada yang menganggap sebagai sebuah aib yang harus disembunyikan, berbeda halnya setelah syariat Islam ditegakkan, peran wanita semakin dimuliakan. Wanita dalam keluarga adalah sebagai tiangnya, yang kemudian perannya berkembang dari istri kemudian memegang peran ganda sebagai istri untuk suaminya sekaligus ibu dari anak-anaknya. Hal tersebut pun masih memungkinkan peran ganda lain yang harus diperankan oleh sosok wanita ini dalam keluarga, misalnya sebagai teman diskusi suami, penasehat suami, teman bercerita anak-anak, sahabat bermain bagi anak-anak, dan masih banyak lagi. Subhanallah.... Betapa mulia dan hebatnya bukan peran seorang wanita dalam keluarga. ^-^
Wanita sendiri dalam menyikapi sesuatu hal bisa bersikap reaktif namun akan lebih utama jika dia bisa bersikap proaktif. Jika wanita reaktif itu menunggu rangsangan dari luar berupa kejadian, peristiwa atau permasalahan dulu baru menyikapinya, berbeda dengan wanita proaktif yang jauh lebih aware terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada sebelum hal tersebut terjadi. Sehingga wanita proaktif lebih mengembangkan antisipasi bukan reaksi semata. Terlebih lagi peran wanita sebagai ibu adalah sebagai madrasah pertama untuk anak-anaknya, sehingga memegang peranan penting dalam mendidik anak-anaknya. Untuk itu, jika terdapat permasalahan dalam diri anak, jangan buru-buru menghakimi anak tersebut, tapi akan lebih utama jika melakukan evaluasi dan koreksi terhadap si ibu. Apakah kiranya ibu telah mendidik anak tersebut dengan semestinya? Apakah ibu telah melakukan antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan permasalahan yang akan dihadapi anak dan bagaimana pemecahannya?
Mendidik anak tidak semata menyampaikan melalui ucapan namun akan lebih utama melalui sikap yang bisa menjadi teladan. Bukankah satu teladan lebih utama dibandingkan 1000 kata-kata? ^-^
Sebagai madrasah pertama, ibu tidak hanya mengajarkan tentang seluk-beluk kehidupan dunia, akademis dan lainnya. Namun, yang lebih utama adalah mempersiapkan anak tersebut dari segi rohaniyah dan akhlak terpuji agar kelak tetap kokoh berdiri di tengah banyaknya cobaan dan godaan dalam hidup ini. Agar anak tetap lurus melangkah ke depan tanpa tersesat dalam menentukan arah, karena tujuan akhirnya sama yakni ridho Illahi. Pendidikan rohaniyah terhadap anak ini seharusnya dimulai sejak proses sebelum anak ini hadir, artinya sejak kedua orang tuanya merencanakan untuk memiliki anak. Seharusnya kedua calon orang tua membekali diri dengan bekal rohani yang kuat. Demikian pula halnya ketika anak dalam kandungan, ibu harus membiasakan melakukan hal-hal yang baik dan mulai mendidik anak tersebut dalam ilmu agama, seperti membaca Al Qur'an, sholat, bersilaturahim, mentadzaburi Al Qur'an dan kebiasaan-kebiasaan baik lainya.
Setelah anak tersebut lahir, sebagai orang tua, terutama ibu, harus pintar-pintar memilih metode dalam mendidik anak. Tidak boleh otoriter apalagi kasar, tetapi tidak boleh juga terlalu memanjakan. Ibu harus memandu anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, mengajarkan bagaimana berdemokrasi dalam keluarga serta mendorong anak untuk berani mengungkapkan pendapat. Sebagai seorang ibu, akan lebih sangat membantu dalam mendidik anak ketika ia bisa memahami bahasa non verbal anak, sehingga terdapat ikatan kuat antara ibu dan anak-anak yang insyaAllah akan lebih mudah dalam mengarahkan anak-anak untuk bisa lebih baik dari waktu ke waktu.
Sebagai istri, tugas wanita tak kalah penting dan utama. Wilayah kebijakan dan kekuasaan istri adalah dalam domestik keluarga sedangkan suami adalah di luar keluarga, khususnya dalam mencari nafkah untuk keluarga. Dengan adanya pembagian tugas dan teritori ini insyaAllah bukan untuk saling beradu kekuasaan dan saling menonjolkan melainkan untuk saling melengkapi dan menyeimbangkan. Istri dilarang untuk mengumbar keburukan suami. Lalu, bagaimana jika memang suami itu buruk perangainya? Coba evaluasi dan koreksi berdua, dengan bahasa cinta dari ke hati tanpa melukai hati masing-masing tanpa perlu mengumbar ke luar. Bagaimana ketika istri dan suami berselisih paham? Berselisih pahamlah di dalam kamar saat berdua, jangan di hadapan anak-anak. Dan ketika kembali di depan anak-anak, maka bersatu katalah. ^-^
Tugas istri di depan suami bukan sekedar menyenangkan suami, menjaga perut suami selalu dalam keadaan kenyang, memenuhi kebutuhan suami, menyenangkan untuk dilihat dan dalam pendengaran tetapi juga menunjukkannya dengan keadaan anak-anak yang terawat dan terdidik serta berbuat baik dengan orang tua, saudara dan kerabat suami. Sekilas kata, tugas istri seakan begitu bejibun, menumpuk, berat dan sulit, akan tetapi jika niat kita karena ibadah kepada Allah Swt niscaya kita akan senantiasa diberikan kekuatan dan kemudahan untuk melaksanakannya. Itulah kenapa, beberapa suami menginginkan istrinya untuk menjadi ibu rumah tangga saja daripada sibuk mengejar karir. Toh, di akhirat nanti yang pertama dimintai pertanggungjawabannya (setelah sholat dll) bukan bagaimana karirnya di dunia, tetapi bagaimana dia dalam menjalankan amanah sebagai ibu terutama dalam merawat dan mengurus suami dan anak-anaknya serta mendidik anak-anaknya.
Sepertinya pembahasanannya sudah terlalu panjang lebar deh... Jadi ga enak nih...hehehe
Demikian dulu yang bisa dishare, semoga bermanfaat ya...
Wassalamu'alaykum.... ^-^
Rabu, 01 Mei 2013
Ketika Separuh Jiwa Pergi
Tidak terasa tahun 2013 sudah berjalan cukup lama ya. Tahu-tahu sudah Mei aja sekarang dan awal bulan pula, pastinya lagi pada bersuka ria donk ya, habis gajian... ^-^
Eits, tapi jangan lupa dengan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi lho ya...hehehe...
Memasuki blog yang lama sepi ini aku mau sedikit berbagi tentang separuh jiwa. Beberapa hari lalu, negeri kita tengah berduka atas berpulangnya ke rahmatullah, Ustad Jefry Al Buchori yang lebih akrab disapa Uje. Semoga saja Allah Swt terima segala amal ibadah dan kebaikan beliau serta mengampuni segala dosa beliau. Aamiin...
Beberapa hari layar kaca kita dipenuhi dengan pemberitaan tentang Uje, juga bagaimana kesedihan yang menyelimuti istri, anak, keluarga serta kerabat atas kepergian Uje. Aku sendiri ga bisa untuk tidak ikut meneteskan airmata saat melihat istri Uje, Pipik, menangis dan berulang kali pingsan melihat kenyataan bahwa suami yang dicintainya telah pergi untuk selama-lamanya. Dan di saat ramainya pemberitaan itu, tiba-tiba suamiku bertanya, "kalau nanti ayah pergi, bundanya bakal sedih seperti istrinya Uje gitu ga sih?"
Aku hanya bisa menjawab, "sudah tentu bakalan sedih. Kehilangan teman hidup kita, separuh jiwa kita, tentu akan sedih. Bapak aja yang seorang lelaki yang selama ini kukenal tangguh, kuat dan tegar pun menangis saat ibu meninggal. Apalagi bunda yang seorang wanita yang tingkat ketegarannya jauh di bawah beliau."
Memang, kita berharap agar tidak sampai mengalami hal demikian. Harapan kita sebagai manusia tentu inginnya bersama dengan pasangan kita selamanya, sehidup semati lah kalau kata lagu. Tapi jika kejadiannya seperti yang dialami oleh Pipik, yang ditinggal pergi untuk selamanya oleh suami tercinta secara tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, siapa yang tidak akan terpukul?
Meski kita tahu bahwa semua adalah titipan Allah Swt yang akan diambil-Nya sewaktu-waktu dan kita harus selalu siap untuk melepaskan dan mengembalikan pada-Nya, rasanya manusiawi jika kita merasa sedih karena kehilangan. Karena sesuatu yang dititipkan-Nya itu telah bersama-sama dengan kita sekian lama.
Kita memang tahu bagaimana hakikat hidup kita dan kebersamaan kita bersama orang-orang yang kita sayangi. Kita pun tahu bahwa semua itu tinggal menunggu waktu untuk kembali. Kita pun mengerti jika kelak kita harus merelakan untuk mengembalikan kepada Illahi. Namun, menerapkan ilmu itu butuh perjuangan tersendiri yang kadang kala jauh lebih sulit daripada mencari ilmu itu sendiri. Namun, bukan berarti kita harus menyerah dan tiada upaya untuk berusaha. Allah Swt tidak menilai hanya berdasarkan hasil akhir, tapi Allah Swt juga menghargai setiap upaya dan usaha untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kita melihat contoh pada Rasulullah Saw saat berduka kehilangan istri beliau, belahan jiwa beliau, Siti Khadijah. Namun, beliau bisa bangkit dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Beliau menyadari bahwa hidup tidak berhenti dan berakhir hanya karena ditinggal oleh kekasih hati, tapi ada amanah lain yang harus diembannya dalam menjalankan perintah Illahi.
Demikian juga contoh yang baru-baru ini kita lihat pada diri Pipik, istri alm Uje. Meski sempat mengalami shock dan kesedihan yang dalam, tapi beliau pun berusaha untuk ikhlas dengan kehendak Allah Swt dan mencoba bangkit kembali. Beliau menyadari masih ada amanah yang harus diembannya, yaitu anak-anak dan keluarga termasuk orang tua. Semoga kita bisa mencontoh ketegaran beliau-beliau dalam menjalani setiap kehendak-Nya dalam tiap fase kehidupan.
Teringat pesan salah satu ustadz, "Hidup di dunia ini kita tidak pernah sekalipun memiliki sesuatu karena hakikatnya semua itu milik Allah Swt. Apa yang ada pada diri kita saat ini dan saat-saat ke depannya pun adalah milik-Nya yang suatu ketika akan diminta kembali. Dan tidak ada hak apapun atas kita untuk tidak memberikan kepada pemilik-Nya. Contohlah tukang parkir, saat mobil/motor datang dia senang, tapi saat mobil/motor itu pergi ia pun tak pernah bersedih. Tahu kenapa? Karena mobil/motor itu sama sekali bukan miliknya. Dia hanya mendapat amanah untuk menjaganya sampai diambil kembali oleh pemiliknya. Dan saat itu tiba, ia pun melepas dengan sukarela. Begitulah seharusnya hidup kita. Selalu bersyukur saat diberi, ikhlas saat sesuatu itu diambil kembali."
Demikian yang bisa sharing hari ini. Semoga bermanfaat dan menjadi renungan kita semua.
Tak lupa, semoga kita semua bisa kembali pada Illahi dalam keadaan sebaik-baik diri dalam khusnul khotimah. Aamiin.....
Senin, 31 Desember 2012
2012, Tahun Penuh Kebahagiaan
Tahun 2012 akan segera berakhir dan tahun 2013 akan menjelang. Sebelum menginjakkan kaki di tahun yang kata orang China adalah Money Year alias Tahun Uang, saya mau sedikit bernostalgia banyak hal kebahagiaan selama tahun 2012 ini.
Mungkin, banyak yang ga tertarik sih. Tapi ga apa-apa deh... (maksa..hahahaha)
My Wedding Day
Setelah sekian lama menanti datangnya jodoh yang telah ditetapkan oleh Allah Swt untukku, akhirnya pada Oktober 2011 lalu datanglah dia melamarku. Dan atas izin Allah Swt pada hari Minggu, 18 Maret 2012 kemarin resmilah saya memperoleh gelar baru sebagai seorang istri dari seorang pria asal Makassar. Aish... bahasanya...hehehehe...
Pernikahan yang dipersiapkan sambil menjalani perkuliahan, di sela-sela tugas dan ujian perkuliahan Alhamdulillah dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah Swt. Meskipun tidak bisa dibilang mewah, tapi Alhamdulillah pernikahan kami cukup meriah dengan hadirnya keluarga, saudara dan kerabat baik dari keluarga saya (pihak bapak dan alm ibu) maupun keluarga suami yang dibelain jauh-jauh datang dari Makassar. Beribu syukur dan terimakasih kepada Allah Swt atas segalanya. Semoga pernikahan kami berkah, mendapat keridhoan Allah Swt dan menjadi keluarga Sakinah Mawadah Wa Rahmah. Aamiin....
Kebahagiaan saat pernikahan ini sebenarnya sedikit kurang lengkap karena tak ada lagi ibunda tercinta yang mendampingi. Bahagia berhias sedikit sedih ceritanya. Ketika dahulu terbayang bahwa hari seperti ini akan sangat sempurna kebahagiaan ketika ada ibunda di sisi, kini harus sedikit bersabar atas kehendak Illahi. Aku menikah saat tiada ibunda di sisiku. Tapi tentunya tetap harus bersyukur bahwa aku masih memiliki ayah yang ganteng dan gagah yang mendampingiku bersama adikku yang cantik jelita di sampingku. ^-^
Terimakasih dan segala syukurku tercurah kepada-Mu, Rabbi atas segala kelancaran dan kebahagiaan ini. :)
Lancar Skripsi dan Ujian Meja (Sidang Skripsi)
Kebahagiaan selanjutnya adalah dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah Swt dalam menyusun skripsi. Meskipun sempat dag-dig-dug menjelang deadline pengumpulan sementara responden kuesioner yang disebar masih sangat jauh dari target, Alhamdulillah dengan ijin Allah Swt yang diiringi dengan kegigihan dan dibantu beberapa rekan kerja dan senior untuk menyebar serta mengisi kuesioner tercapai juga targetnya. Dan setelah selesai dengan penyusunan skripsi yang memusingkan dengan bumbu-bumbu SPSS dan regresi linear berganda, selesailah penyusunannya untuk selanjutnya melewati koreksi dan revisi dari dosen pembimbing materi dan dosen pembimbing teknis. Alhamdulillah, atas ijin Allah Swt, lancar dan siap didaftarkan untuk persidangan atau ujian meja.
Sempat deg-degan karena mendapatkan dosen penguji yang cukup terkenal serem dan agak berbahaya, karena pernah meminta mahasiswa untuk mengulang. Namun, atas ijin Allah Swt yang didukung dengan do'a dari suami, keluargaku dan juga keluarga suami, Alhamdulillah lulus dalam sekali sidang dengan beberapa revisi. Hanya dalam waktu seminggu setelah sidang atau ujian meja tersebut, skripsi hasil revisi telah mendapat persetujuan dari ketiga dosen penguji dan selesai di hardcover. Siap untuk dikumpulkan ke bagian sekretariat kampus untuk ditandatangani bapak direktur deh...hehehehe
Yudisium, Sah Menjadi Alumni STAN untuk kedua kalinya ^_^
Skripsi beres, sidang lancar dan lulus, kemudian menyelesaikan semua kewajiban administrasi, akhirnya siap juga untuk mengikuti prosesi yudisium, pengesahan kelulusan dan meraih gelar alumni untuk kedua kalinya. Horeeeeeee.........
Jika pada Oktober 2007 dulu resmi menjadi alumni DIII STAN spesialisasi Akuntansi Pemerintahan, maka pada 28 Desember 2012 ini resmi mendapat gelar alumni DIV STAN.
Alhamdulillah, jika bukan karena ijin Allah Swt mungkin tidak akan berdiri di posisi ini saat ini. Segenap puji dan syukur hanya kepada Allah Swt.
Kado Ulang Tahun Yang Istimewa
Kebetulan juga di bulan Desember ini adalah hari ulang tahunku. Meski agak bersedih karena suami tidak bisa datang pada hari H nya, tapi suami datang keesokan harinya dan tetap tinggal di sisiku selama dua minggu karena penugasan dari kantor. Alhamdulillah... hehehe....
Tidak cukup dengan itu, cuti natal-tahun baru ini pun suami rela menghabiskannya bersamaku sebagai hadiah tambahan dan honeymoon entah yang keberapa kalinya.hehehehehe...
Tidak cukup dengan memberi setangkai bunga mawar dan eksternal hard disk (permintaanku sih untuk nyimpen banyak film, dorama dan drama...hehehe), suami ngajak ke hotel ikut penugasan. Lumayan...hehehe
Tapi hadiah ultah yang paling membahagiakan adalah kado dari Allah Swt, yang menjadi kado untuk ulang tahun juga kelulusanku, yaitu diciptakannya seorang anak di dalam rahimku. Terimakasih, ya Allah.... setelah sekian lama penantian kami akhirnya Engkau kabulkan do'a dan permohonan kami di saat terbaik. :)
Semoga kami bisa menjaga dan melaksanakan amanah ini dengan sebaik-baiknya... Aamiin...
Hmmm.... Agak kaku jadinya, kelamaan ga nulis. Mungkin sudah dulu kali ya. Sambil ngetik sambil nemenin suami ngerjain tugas kantor yang deadline awal januari...hahahaha...
Tentunya sambil makan-makan setelah tadi sempat diajak nonton Jack Reacher, yang dibintangi Tom Cruise. hehehe
Mungkin, banyak yang ga tertarik sih. Tapi ga apa-apa deh... (maksa..hahahaha)
My Wedding Day
Setelah sekian lama menanti datangnya jodoh yang telah ditetapkan oleh Allah Swt untukku, akhirnya pada Oktober 2011 lalu datanglah dia melamarku. Dan atas izin Allah Swt pada hari Minggu, 18 Maret 2012 kemarin resmilah saya memperoleh gelar baru sebagai seorang istri dari seorang pria asal Makassar. Aish... bahasanya...hehehehe...
Pernikahan yang dipersiapkan sambil menjalani perkuliahan, di sela-sela tugas dan ujian perkuliahan Alhamdulillah dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah Swt. Meskipun tidak bisa dibilang mewah, tapi Alhamdulillah pernikahan kami cukup meriah dengan hadirnya keluarga, saudara dan kerabat baik dari keluarga saya (pihak bapak dan alm ibu) maupun keluarga suami yang dibelain jauh-jauh datang dari Makassar. Beribu syukur dan terimakasih kepada Allah Swt atas segalanya. Semoga pernikahan kami berkah, mendapat keridhoan Allah Swt dan menjadi keluarga Sakinah Mawadah Wa Rahmah. Aamiin....
| With My Beloved Husband |
| with my father and lil sister |
| with my husband family |
Terimakasih dan segala syukurku tercurah kepada-Mu, Rabbi atas segala kelancaran dan kebahagiaan ini. :)
Lancar Skripsi dan Ujian Meja (Sidang Skripsi)
Kebahagiaan selanjutnya adalah dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah Swt dalam menyusun skripsi. Meskipun sempat dag-dig-dug menjelang deadline pengumpulan sementara responden kuesioner yang disebar masih sangat jauh dari target, Alhamdulillah dengan ijin Allah Swt yang diiringi dengan kegigihan dan dibantu beberapa rekan kerja dan senior untuk menyebar serta mengisi kuesioner tercapai juga targetnya. Dan setelah selesai dengan penyusunan skripsi yang memusingkan dengan bumbu-bumbu SPSS dan regresi linear berganda, selesailah penyusunannya untuk selanjutnya melewati koreksi dan revisi dari dosen pembimbing materi dan dosen pembimbing teknis. Alhamdulillah, atas ijin Allah Swt, lancar dan siap didaftarkan untuk persidangan atau ujian meja.
Sempat deg-degan karena mendapatkan dosen penguji yang cukup terkenal serem dan agak berbahaya, karena pernah meminta mahasiswa untuk mengulang. Namun, atas ijin Allah Swt yang didukung dengan do'a dari suami, keluargaku dan juga keluarga suami, Alhamdulillah lulus dalam sekali sidang dengan beberapa revisi. Hanya dalam waktu seminggu setelah sidang atau ujian meja tersebut, skripsi hasil revisi telah mendapat persetujuan dari ketiga dosen penguji dan selesai di hardcover. Siap untuk dikumpulkan ke bagian sekretariat kampus untuk ditandatangani bapak direktur deh...hehehehe
Yudisium, Sah Menjadi Alumni STAN untuk kedua kalinya ^_^
Skripsi beres, sidang lancar dan lulus, kemudian menyelesaikan semua kewajiban administrasi, akhirnya siap juga untuk mengikuti prosesi yudisium, pengesahan kelulusan dan meraih gelar alumni untuk kedua kalinya. Horeeeeeee.........
Jika pada Oktober 2007 dulu resmi menjadi alumni DIII STAN spesialisasi Akuntansi Pemerintahan, maka pada 28 Desember 2012 ini resmi mendapat gelar alumni DIV STAN.
Alhamdulillah, jika bukan karena ijin Allah Swt mungkin tidak akan berdiri di posisi ini saat ini. Segenap puji dan syukur hanya kepada Allah Swt.
Kado Ulang Tahun Yang Istimewa
Kebetulan juga di bulan Desember ini adalah hari ulang tahunku. Meski agak bersedih karena suami tidak bisa datang pada hari H nya, tapi suami datang keesokan harinya dan tetap tinggal di sisiku selama dua minggu karena penugasan dari kantor. Alhamdulillah... hehehe....
Tidak cukup dengan itu, cuti natal-tahun baru ini pun suami rela menghabiskannya bersamaku sebagai hadiah tambahan dan honeymoon entah yang keberapa kalinya.hehehehehe...
Tidak cukup dengan memberi setangkai bunga mawar dan eksternal hard disk (permintaanku sih untuk nyimpen banyak film, dorama dan drama...hehehe), suami ngajak ke hotel ikut penugasan. Lumayan...hehehe
Tapi hadiah ultah yang paling membahagiakan adalah kado dari Allah Swt, yang menjadi kado untuk ulang tahun juga kelulusanku, yaitu diciptakannya seorang anak di dalam rahimku. Terimakasih, ya Allah.... setelah sekian lama penantian kami akhirnya Engkau kabulkan do'a dan permohonan kami di saat terbaik. :)
Semoga kami bisa menjaga dan melaksanakan amanah ini dengan sebaik-baiknya... Aamiin...
Hmmm.... Agak kaku jadinya, kelamaan ga nulis. Mungkin sudah dulu kali ya. Sambil ngetik sambil nemenin suami ngerjain tugas kantor yang deadline awal januari...hahahaha...
Tentunya sambil makan-makan setelah tadi sempat diajak nonton Jack Reacher, yang dibintangi Tom Cruise. hehehe
Maafkeun ya... :(
Ehm.... Ehm....
Tes... Tes...
Duh, agak merasa bersalah sama blog ini. Agak-agak terbengkalai pasca menikah. hahahaha....
Padahal sich ga setiap hari juga ngurusin suami. Maklum masih LDM alias Long Distance Marriage (biar agak keren lah istilahnya intinya sih masih pisah sama laki...hahahaha).
Nggak akan menyalahkan pernikahan juga sich, apalagi nyalahin skripsi. Tapi, banyak hal yang sering dilakukan dan juga kadang didera rasa malas untuk nge-blog lagi. (Malu-maluin... dasar bloger moody... *tutupmuka*).
Setelah discroll ternyata terakhir kali ngeposting adalah bulan Juni 2012. Berapa lamakah kiranya?
Lama, berbulan-bulan bo'....
Kemana aje ya selama ini? Sembunyi di hutan kali ya...hahahaha....
Postingan ini dikhususkan untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada pengunjung baik yang sengaja maupun tidak sengaja suka mampir ke sini...
Maaf ya...hehehehe
Tes... Tes...
Duh, agak merasa bersalah sama blog ini. Agak-agak terbengkalai pasca menikah. hahahaha....
Padahal sich ga setiap hari juga ngurusin suami. Maklum masih LDM alias Long Distance Marriage (biar agak keren lah istilahnya intinya sih masih pisah sama laki...hahahaha).
Nggak akan menyalahkan pernikahan juga sich, apalagi nyalahin skripsi. Tapi, banyak hal yang sering dilakukan dan juga kadang didera rasa malas untuk nge-blog lagi. (Malu-maluin... dasar bloger moody... *tutupmuka*).
Setelah discroll ternyata terakhir kali ngeposting adalah bulan Juni 2012. Berapa lamakah kiranya?
Lama, berbulan-bulan bo'....
Kemana aje ya selama ini? Sembunyi di hutan kali ya...hahahaha....
Postingan ini dikhususkan untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada pengunjung baik yang sengaja maupun tidak sengaja suka mampir ke sini...
Maaf ya...hehehehe
Selasa, 19 Juni 2012
A Very Yuppy Wedding
Yup, akhirnya aku bisa kembali singgah di rumahku yang satu ini. Do you Know that I miss you so much, my second home? :*
Yah, meskipun ga akan sekangen aku sama suamiku, tapi sekian lama sibuk ngurus suami jadi jarang nulis di sini. Eaaaa.... ceritanya sedikit pamer nih karena habis nikah....hihihi....
Eh, tapi judul postingan ini ga akan lebay mengupas tentang pernikahanku, kok. So don't worry... Aku hanya akan sedikit berbagi tentang bukunya Ika Natassa yang sudah membuat aku tertawa geli dan semakin jatuh cinta sama my beloved husband, Andi Wira Alamsyah. (will you read this post, sweetie?)
Yak, kayaknya aku sudah mulai ketularan Andrea yang selalu memanggil pujaan hatinya, Adjie, dengan panggilan sweetie.hehehe...
Entahlah, bagaimana aku harus mengungkapkannya. Tapi menurutku buku ini romantis dan sangat real. Dimana romantisnya? Dimana realnya? Aku kasih sedikit bocoran lah ya...hehe...
Andrea, gadis Indo, Batak-Belanda-You can imagine how beautifull she is. Dia bekerja di sebuah bank dan di sanalah dia mengenal Adjie-putra tunggal pasangan Jawa tulen, Solo nan terkenal dengan kehalusan dan kelemahlembutannya. Andrea dan Adjie adalah rekan kerja, tak jarang keduanya bekerja dalam satu tim yang sama. Dan dari sanalah bibit-bibit cinta itu tumbuh dan merekah.
Tapi, kalian pasti tahu bagaimana keras dan egoisnya sepasang kekasih yang sama-sama anak tunggal ini. That's make their friendship - Tania and Firman - crazy. Mereka sering sekali berantem dan saling keukeuh ga mau ngalah satu sama lain. Tahulah bagaimana kerasnya dan ga mau diaturnya dua orang yang emang sangat egois ini. Adjie yang cemburuan, melarang Andrea deket-deket sama Byan, Dimas, Radit dan beberapa teman kerja laki-laki Andrea yang lain yang memang terang-terangan memberi sinyal ketertarikannya pada Andrea. Begitu juga Andrea suka kalang kabut kalau Ajeng, pegawai baru yang kecentilan, godain Adjie di depan matanya dan ikut serta membuat aturan kalau Adjie ga boleh deket-deket sama Ajeng, si gadis Jawa yang membuatnya insecure.
Pasti kalian akan bilang, "gampang tinggal umumin aja kalau Andrea itu pacarnya Adjie. Selesai, ga perlu cemburu-cemburuan ga jelas."
Eits, tunggu dulu. Bank tempat Andrea dan Adjie bekerja menetapkan aturan berupa larangan pacaran atau menikah dengan sesama pegawai di satu kantor tersebut. What's that mean? Salah satu dari mereka-Andre atau Adjie-harus keluar dari bank tersebut. Tapi, berhubung mereka masih terikat ikatan dinas, mereka ga bisa langsung ambil keputusan demikian. Kecuali mereka mau dikeluarkan dari pekerjaan sebelum habis ikatan dinasnya dan kena denda pelanggaran kontrak sebesar Rp500 juta. So, that the reason why they keep silent about their relationship.
Tapi stress ga sih kalau tiap hari harus ngeliat orang yang kita cintai dikelilingi banyak fans dan pemujanya yang baik diam-diam atau terang-terangan melancarkan aksi PDKT yang super gila? Apalagi Andrea yang paling anti sama Ajeng yang saking beraninya nyosor aja ke Adjie di depannya. Dan kalau dua makhluk super ego itu sudah berantem, Tania dan Firman mau ga mau harus ikut pusing ngedengerin mereka ribut atau kadang malah saling diem-dieman ga ada yang mau ngalah.
Selain itu, Andrea yang sering uring-uringan karena cemburu tak jarang membuat Adjie kalang kabut. (sepertinya aku juga kayak gitu... suka ngambek-ngambek ga jelas sampai suami bingung...hehehe....). Apalagi kalau kemarahannya sudah memuncak, Andrea akan menangis yang membuat Adjie lebih kalang kabut saking bingungnya harus ngapain (ini juga aku banget kayaknya....hahaha). Dan laki-laki, sepertinya tidak jauh berbeda di seluruh dunia ini, ketika dia cemburu dan marah, dia tidak berkata-kata. Hanya diam membisu tanpa kata. Ya, hampir mirip wanita kadang.... harus dibujuk-bujuk untuk bicara dan berbaikan lagi. Itu juga yang berlaku bagi Adjie ketika dia cemburu melihat Andrea membiarkan teman-teman lelakinya menggodanya. hehehe....
Hal seperti itu sepertinya memang ga sedikit yang mengalaminya.hihihi....
Trus, hubungannya sama judul yang "A Very Yuppy Wedding" apa donk?
Ini dia masalahnya. Ketika keduanya sudah memutuskan untuk serius, baik Adjie dan Andrea ingin mengenal orang tua masing-masing pasangan. Berawal dari ngobrol by phone karena kedua orang tua Andrea dan Adjie sama-sama jauh, orang tua keduanya ingin mengenal secara langsung calon menantunya. That's the matter! Ayah dan ibu Adjie yang Jawa tulen, sempat membuat grogi Andrea.
Bagaimana kalau orang tua Adjie tidak menyukaiku hanya karena aku bukan orang Jawa? Bagaimana jika orang tua Adjie tidak menyukaiku karena aku orang Batak dan blasteran Belanda? Bagaimana jika aku salah melakukan sungkem kepada orang tuanya dan diusir dari sana? Bagaimana jika ada adegan high heels-ku patah di depan orang tuanya? Bagaimana jika ketidaksukaan orang tua Adjie memaksa kami untuk berpisah? Bagaimana aku bisa hidup tanpa Adjie, sedangkan aku amat sangat mencintai my 5 o'clock shadow-ku itu? (dan ketakutan seperti ini sempat aku rasakan saat hendak diperkenalkan kepada keluarga suami.hehehe...)
Begitu juga dengan Adjie. Hanya bedanya, cowok selalu bisa menyembunyikan kegugupannya dan tetap terlihat tenang. Dan semua berjalan lancar sampai keduanya saling bertemu langsung dengan orang tua pasangan masing-masing.
Tapi bukan Ika Natassa namanya jika semua berakhir datar tanpa bumbu yang memicu adrenalin. Si bos besar, Bu Karen, ternyata adalah sahabat baik ibunya Adjie. Dan keduanya dikenalkan kepada Bu Karen di pesta pernikahan Praka, sepupu Adjie. It's gonna be wrong!
Bagaimana jika mereka dipecat besok oleh Bu Karen? Bagaimana dengan denda pelanggaran kontraknya? Oh, tidak... Adjie adalah anak sahabatnya jadi kurasa Adjie akan baik-baik saja, pikir Andrea. Lalu aku? Dan Andrea semakin khawatir.
Lalu? Bagaimana kelanjutannya? Ah, ga seru kalau kuceritakan sampai endingnya...
Silakan baca sendiri dan nikmati bagian demi bagian yang akan membuat kalian sadar that you're not alone. So many people feel the same. Ketakutan demi ketakutan. Kekhawatiran demi kekhawatiran. Keraguan demi keraguan yang tak henti mewarnai bahkan sampai H-2 jam. Dan dalam hitungan detik semua bisa berubah, kapan pun dan bagaimana pun.
So, nunggu apa lagi? Beli bukunya dan baca sampai tuntas. You will enjoy the story. And you will lovin it so much... :)
Senin, 12 Maret 2012
So, I Married The Anti-fan

Selesai melahap novel terjemahan dari Korea berjudul "So, I Married The Anti-fan" karya Kim Eun Jeong. Ga tahu kenapa, pas baca udah ngebayangin dramanya dengan memilih pemainnya semau kita..hehehe...
Sekilas kalau dibilang sih memang novel ini drama korea banget. Apalagi aku yang emang hobby banget nonton drama Korea. Ga sampai nge-fan fanatik dan ngebenci anti-fan sih. Cuma suka biasa aja dan biasanya berganti dari satu drama ke drama yang lain maka yang disuka pun ikut berganti. Labil banget ya..hehehe...
Nah, di sini aku mau sedikit berbagi tentang novel ini. Mau tahu? Mau tahu? :)
Pernahkah berfikir tinggal dengan orang yang tidak kalian suka? Bisa kan dibayangin bagaimana kira-kira suasana yang ada dan akan jadi seperti apa rasanya menikmati seharian bersama orang yang tidak kita suka. Lee Geun Yong, seorang wartawan yang dipecat setelah terlibat sedikit masalah dengan aktor papan atas, Hu Joon, akhirnya menyatakan "perang" terhadap artis itu. Dia merasa dirugikan karena ulah arogan Hu Joon sehingga membuatnya dipecat dari pekerjaannya.
Keberanian Geun Yong memprotes dan mengkritik Hu Joon sempat membuatnya menerima serangan balik dari fan-fan Hu Joon. Geun Yong sempat menderita luka-luka karena cakaran dan pukulan fan Hu Joon. Tak hanya itu, wajahnya langsung terpampang di halaman utama di beberapa media. Malu? Tentu saja? Merasa seluruh dunia membencinya? Tak terelakkan lagi. Tapi Geun Yong enggan menyurutkan langkahnya. Terlanjur basah, maka dia memutuskan untuk terus melangkah maju.
Komentar-komentar negatif dari para fans Hu Joon dan juga netizen seringkali membuat Geun Yong menangis dan menambah kebenciannya semakin memuncak pada Hu Joon. Kenapa dunia demikian tidak adil padanya? Kenapa semua orang lebih membela dan bersimpati pada Hu Joon daripada dirinya?
"Kau seharusnya tidak hanya melihat 'pohonnya' saja tapi lihat juga 'gunung raksasa' di belakangnya," nasehat Mi Jung, sahabat Geun Yong.
Mi Jung merasa bahwa apa yang dilakukan oleh Geun Yong terlalu bodoh dan hanya melukai dirinya sendiri. Tapi Geun Yong bukannya mendengarkan nasehat sahabatnya malah semakin menjadi tidak karuan. Dia menyusun taktik untuk membalas semuanya kepada Hu Joon. Dan bertambah senanglah dia ketika mendapat tawaran dari seorang wartawan terkait keberaniannya melawan Hu Joon secara terang-terangan. Sayangnya, Yoon Gun, merupakan wartawan kenalan Hu Joon. Hasil wawancara dipublikasikan seolah-olah memojokkan Geun Yong. Terang saja Geun Yong merasa dibodohi dan menyesalinya. Tapi apa boleh buat, semua sudah terlanjur. Seluruh rakyat Korea mungkin sudah mengabadikan namanya sebagai orang yang bodoh, rendah dan hina yang rela melakukan apapun untuk mencari popularitas dengan melawan Hu Joon.
Tak disangka, PD Han yang terkenal bertangan "Midas" mengambil kesempatan ini dan mengusulkan untuk membuat sebuah real variety show tentang seorang idola yang melewati hari-harinya bersama anti-fan dimana anti-fan itu bertindak sebagai manajernya. Geun Yong merasa tertarik dengan tawaran PD Han tersebut terlebih setelah mengetahui berapa nilai kontrak yang akan diterimanya, belum lagi dengan honor per episodenya. Geun Yong yang memang sedang mengalami kesulitan keuangan segera menerima tawaran itu tanpa tahu terlebih dahulu siapa artis yang akan menjadi lawan mainnya.
"Hu Joon," jawab PD Han ketika Geun Yong menanyakan siapa artis tersebut.
Terang saja Geun Yong terkejut dan merasa menyesal telah mengiyakan terlebih dahulu tanpa mengetahui siapa artisnya terlebih dahulu. Dasar bodoh! keluhnya dalam hati.
Awalnya Hu Joon juga enggan menerima tawaran tersebut. Tapi rupanya dia memiliki rasa gengsi yang tinggi sehingga menerima tawaran PD Han tersebut.
Pada awal shooting, sering sekali terlihat jelas bagaimana sikap Geun Yong yang sangat tidak suka pada Hu Joon. Bahkan ketika ada adegan Geun Yong menabrak pembatas parkir dengan van Hu Joon ditanyangkan, Geun Yong semakin mendapat citra buruk tentang dirinya. sekalipun sedih tapi Geun Yong tetap memilih untuk bertahan. Toh, tidak ada pilihan lain. Terlebih rasanya dia sudah terlalu malu dan merasa tak berharga, sehingga tak ada gunanya juga dia membela diri mati-matian.
Waktu terus bergulir dan membuat Geun Yong semakin tahu siapa itu Hu Joon. Bahkan suatu ketika saat Geun Yong pura-pura tidur, Hu Joon bercerita sedikit tentang masa lalunya. Melalui manajer Hu Joon, Ji Hyang, akhirnya Geun Yong tahu sedikit banyak tentang gadis yang dilihatnya di klub benny milik JJ saat terjadi kesalahpahamannya dengan Hu Joon. Itu juga yang kemudian membuat Geun Yong bersimpati dengan Hu Joon.
Eits, tunggu dulu...
Kayaknya aku akan bercerita cukup sampai di sini saja. Karena kalau aku menceritakan secara detailnya jangan-jangan bukunya ga laku nanti.hehehe...
Karena aku juga penulis (meski masih sangat amatir dan pendatang baru) jadi aku juga ingin membantu penulis lain untuk bisa merasa bahagia dan bangga ketika tahu bahwa karyanya tidak hanya disukai oleh pembaca tapi juga laku keras. :)
Novel ini rencananya akan diangkat menjadi drama lho di Korea. So, siap-siap tunggu saja nanti kehadirannya di layar kaca. Dan ketika kita membaca novel ini kita bisa menebak-nebak kira-kira siapakah yang tepat untuk memerankan sosok hu Joon, Geun Yong, Ji Hyang, JJ, dll. Selain itu, kita juga bisa berjalan-jalan di Korea melalui setting tempat di novel ini. :)
Ok, selamat berburu novel ini di toko buku dan menikmati ceritanya yang lebih banyak membuat kita tertawa terpingkal-pingkal, meski ada kalanya kita harus menitikkan airmata. :)
Happy reading ^-^
Langganan:
Postingan (Atom)



